PORTAL7.CO.ID - Forward Portland Trail Blazers, Deni Avdija, memberikan penjelasan mendalam terkait gaya permainannya yang kerap memicu perdebatan di kalangan pengamat basket. Dalam podcast "The Young Man and the Three" yang tayang pada Selasa, 14 April 2026, ia menanggapi tuduhan mengenai taktik memancing pelanggaran.

Pemain berusia 25 tahun ini secara tegas membela pendekatan agresifnya di lapangan setelah mencatatkan volume tembakan bebas yang sangat tinggi sepanjang musim 2025-2026. Kritik muncul karena statistik menunjukkan wasit sering meniup peluit saat Avdija melakukan serangan ke area pertahanan lawan.

"Saya rasa saya bukan tipe pemain yang secara kasar sengaja memancing pelanggaran dari lawan," ujar Deni Avdija.

Penolakan tersebut didasari pada keyakinan bahwa frekuensi penetrasi ke arah ring menjadi alasan utama mengapa lawan sering melakukan pelanggaran terhadap dirinya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menggunakan gerakan yang dianggap tidak sportif demi mendapatkan keuntungan di garis lemparan bebas.

"Saya tidak melakukan hal seperti tipuan tembakan lalu menabrakkan diri ke badan lawan dan melempar bola ke atas karena itu tidak sportif, namun saya merasa sering melakukan penetrasi ke arah ring," kata Deni Avdija.

Berdasarkan data performa liga yang dilansir dari larrybrownsports.com, Avdija mencatatkan rata-rata 9,2 percobaan lemparan bebas per pertandingan pada musim ini. Angka tersebut menempatkannya di posisi kedua tertinggi di NBA, tepat di bawah bintang Dallas Mavericks, Luka Doncic.

Musim 2025-2026 tercatat sebagai periode terbaik dalam karier profesionalnya dengan torehan rata-rata 24,2 poin, 6,9 rebound, dan 6,7 assist per gim. Penampilan gemilang ini mengantarkannya masuk ke dalam jajaran All-Star untuk pertama kalinya.

Selain prestasi individu, kontribusi Avdija juga membantu Portland Trail Blazers mengunci rekor kemenangan 42-40. Pencapaian ini merupakan rekor terbaik yang diraih oleh klub tersebut sejak musim kompetisi 2020-2021 yang lalu.

Dalam tayangan podcast tersebut, Avdija didampingi oleh rekan setimnya, yakni Toumani Camara dan Donovan Clingan. Ketiganya membahas berbagai hal, mulai dari perkembangan internal tim Blazers hingga kemampuan bertahan elit yang dimiliki oleh Camara.