Dunia yang kukenal runtuh dalam sekejap, bukan karena gempa bumi, melainkan karena selembar surat berisi penolakan beasiswa impian. Ambisi yang selama ini menjadi kompas hidupku tiba-tiba lenyap, meninggalkan kekosongan yang dingin dan rasa malu yang menusuk. Aku merasa seperti seorang pelaut yang kapalnya karam, terombang-ambing tanpa tahu harus berlabuh di mana.

Keputusan untuk meninggalkan hiruk pikuk kota dan menerima tawaran mengelola perpustakaan komunitas di pinggiran desa adalah upaya melarikan diri yang putus asa. Aku mencari tempat sepi untuk menjilati luka, berharap debu kegagalan bisa terhapus oleh udara pegunungan yang jernih. Tempat itu bernama ‘Pena Tua’, sebuah bangunan reyot yang lebih banyak menyimpan kenangan daripada buku baru.

Awalnya, aku membenci kesunyian dan rutinitas yang monoton. Aku terbiasa dengan target, kecepatan, dan pengakuan; kini aku hanya berhadapan dengan tumpukan buku berdebu dan tatapan ingin tahu dari beberapa anak desa. Aku menyadari, kegagalan akademikku tidak hanya merenggut masa depanku, tetapi juga harga diriku.

Namun, di tengah kesunyian itu, aku bertemu dengan Bu Lastri, seorang nenek tua yang setiap sore datang hanya untuk membaca berita koran usang. Beliau tidak pernah bertanya tentang masa laluku, tetapi selalu bercerita tentang pohon beringin yang tetap berdiri tegak meski badai silih berganti. Perlahan, cerita Bu Lastri menumbuhkan pemahaman baru dalam diriku tentang ketahanan.

Aku mulai menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang seberapa tinggi pencapaian yang sudah kuraih, melainkan seberapa gigih aku bangkit setelah terjatuh. Aku berhenti meratapi surat penolakan itu dan mulai fokus pada apa yang ada di depan mata: membuat Pena Tua kembali hidup. Ini adalah ujian yang nyata, jauh lebih berat daripada ujian di bangku kuliah.

Mengorganisir ulang rak-rak, membersihkan jamur di dinding, dan memulai program membaca untuk anak-anak desa menjadi terapi terbaikku. Setiap senyum yang kulihat dari anak-anak saat mereka menemukan cerita baru adalah validasi yang lebih murni daripada nilai A yang selama ini kukejar. Aku belajar bahwa kontribusi kecil pun bisa menciptakan riak yang besar.

Inilah babak terberat dan paling berharga dari Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku harus menerima fakta bahwa kegagalan adalah tinta hitam yang diperlukan untuk memberi kontras pada halaman-halaman yang cerah. Proses ini mengajarkanku bahwa kedewasaan adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri secara jujur, tanpa topeng kesuksesan yang selama ini kupakai.

Pena Tua bukan lagi tempat pelarian, melainkan medan pertempuran di mana aku memenangkan kembali diriku sendiri. Aku menemukan kekuatan untuk berdiri tegak, bukan karena aku sudah melupakan kegagalan, tetapi karena aku sudah menerimanya sebagai bagian dari cerita. Aku belajar bahwa luka yang sembuh meninggalkan bekas, dan bekas itulah yang membuat kita menjadi lebih kuat.

Ketika surat dari universitas impian itu akhirnya datang lagi, menawarkan kesempatan kedua, aku hanya tersenyum tipis. Kini, aku tahu bahwa aku tidak lagi mengejar gelar semata, tetapi aku mengejar versi terbaik dari diriku. Pertanyaannya, apakah aku akan kembali, atau apakah aku akan memilih jalan baru yang telah kutemukan di bawah atap Pena Tua ini?