PORTAL7.CO.ID - Dua ikon bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi dan Flandy Limpele, turut hadir dalam Pekan Olahraga Integrasi Siswa dan Masyarakat (Porismas) 2026 yang diselenggarakan di Sukabumi. Kehadiran mereka bertujuan memberikan pembekalan dan motivasi langsung kepada para atlet muda yang berpartisipasi dalam acara tersebut.

Kegiatan ini difokuskan pada upaya pengasahan bakat sejak dini dalam cabang olahraga bulu tangkis, menarik antusiasme tinggi dari para pelajar peserta. Para atlet muda menunjukkan semangat besar untuk menyerap ilmu dari kedua mantan pemain kelas dunia tersebut saat sesi pembinaan berlangsung.

Hariyanto Arbi dikenal luas karena prestasinya yang gemilang, termasuk menjuarai All England Open pada tahun 1993 dan 1994 serta meraih gelar Kejuaraan Dunia BWF di tahun 1995. Ia juga merupakan bagian penting dari tim Piala Thomas Indonesia pada era kejayaan 1990-an.

Sementara itu, Flandy Limpele merupakan spesialis sektor ganda yang sukses membawa pulang medali perunggu bagi Indonesia pada ajang Olimpiade Athena 2004. Pengalaman internasional yang panjang menjadi modal berharga dalam upaya pembinaan generasi penerus bulu tangkis nasional.

Hariyanto Arbi menyambut baik inisiatif penjaringan bibit unggul ini dan menekankan perlunya dukungan konsisten dari pemerintah daerah. "Ya, ya bagus ya kegiatannya, mestinya pemerintah daerah juga dukung kegiatan kayak gini ya. Jadi memang anak-anak SMA dibiasakan ikut kompetisi supaya cari bibit-bibit bulu tangkis yang handal ya buat Indonesia," ujar Hariyanto saat berada di GOR Dojo, Setukpa Lemdiklat Polri, Kota Sukabumi, pada Rabu (29/4/2026).

Meskipun melihat potensi, Hariyanto menilai kemampuan teknis para siswa masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler sekolah saja tidak cukup untuk mencapai level profesional. "Kalau lihat sih masih ini ya, masih perlu banyak latihan lagi ya. Mungkin beberapa kalau tadi saya lihat kan masih mungkin cuma ekstrakurikuler di sekolah aja ya. Kalau mau berprestasi kan mesti harus ikut ke pelatihan di klub gitu baru bisa berkembang permainannya," katanya.

Aspek ketangguhan mental juga ditekankan oleh Hariyanto, mengingatkan atlet agar tidak berkecil hati saat menghadapi kekalahan. Ia memandang kegagalan sebagai bagian integral dari proses menuju perbaikan diri. "Gagal itu jangan menjadi satu keputusasaan lah. Gagal itu salah satu proses kita untuk lebih baik lagi. Karena kalau kita disiplin, kerja keras ya, perlu ada gagal, ada bangkit, ada kalah, ada menang lagi," tuturnya.

Flandy Limpele turut mengapresiasi bakat yang ia lihat di Sukabumi, menyatakan bahwa kualitas permainan peserta cukup merata dan memiliki fondasi yang baik. "Ya bagus-bagus juga, kelihatannya kelasnya hampir samalah semua gitu," ucap Flandy mengenai potensi atlet muda yang ditemuinya.

Flandy meyakini bahwa beberapa pemain memiliki jalur yang tepat menuju profesionalisme, namun ia menekankan bahwa bakat harus terus diasah melalui latihan intensif. "Ya bagus juga, saya lihat main mereka tuh kayaknya ada bakatlah. Cuma mungkin masih harus terus diasah," katanya.