Dulu, aku adalah pemimpi yang hanya melihat dunia dalam spektrum warna cat air. Rencanaku sederhana: lulus kuliah, menjelajah dunia, dan melukis hingga jariku kaku. Segalanya terasa ringan, sampai panggilan telepon itu datang, memecah kanvas ilusiku menjadi serpihan tajam yang tak terhindarkan.

Ayah mendadak sakit, dan tanggung jawab Kopi Senja yang selama ini menghidupi kami jatuh ke pundakku tanpa aba-aba. Tempat yang dulunya adalah aroma harapan dan tawa pelanggan, kini berbau keputusasaan dan tumpukan tagihan yang belum terbayar. Aku, yang hanya tahu cara memegang kuas, kini harus belajar menghitung laba rugi dan memikirkan gaji karyawan.

Banyak teman yang menjauh, menganggapku terlalu serius dan kehilangan ‘percikan’ seni yang dulu mereka kagumi. Mereka tidak mengerti, bahwa di balik meja kasir yang kusam ini, aku sedang melukis ulang masa depanku dengan tinta yang pahit. Setiap kegagalan kecil dalam operasional terasa seperti pukulan keras yang merobek kepercayaan diriku.

Aku mulai membaca buku akuntansi tebal di malam hari, menggantikan sketsa-sketsa abstrak yang biasa kubuat di kanvas. Kesadaran itu menghantamku dengan keras: kedewasaan bukanlah tentang berapa banyak mimpi yang kau miliki, melainkan seberapa gigih kau bertahan saat mimpi itu harus ditunda demi realitas yang menuntut.

Pengalaman pahit mengelola usaha yang hampir bangkrut itu adalah babak yang tidak pernah aku minta, namun justru menjadi fondasi terkuat untuk diriku yang baru. Inilah yang mereka sebut sebagai Novel kehidupan, di mana karakter utama dipaksa tumbuh di tengah badai yang tak terduga. Aku belajar bahwa kekuatan sejati terletak pada ketenangan saat menghadapi kerugian dan kemampuan untuk bangkit kembali.

Setelah berbulan-bulan mencoba resep dan strategi pemasaran baru, aku berhasil memperkenalkan menu yang lebih efisien dan menarik pelanggan muda. Saat Kopi Senja mulai ramai kembali, aku merasakan kepuasan yang jauh berbeda dari sekadar pujian atas sebuah lukisan yang berhasil terjual. Itu adalah hasil dari keringat, air mata, dan perhitungan yang matang.

Aku merindukan Arya yang dulu, yang bebas dan tanpa beban finansial di pundaknya. Namun, aku jauh lebih menghargai Arya yang sekarang, yang tahu bagaimana cara berdiri tegak dan memimpin di tengah kesulitan. Tanggung jawab ini telah mengukir garis tegas di wajahku, namun juga menanamkan kebijaksanaan di setiap keputusan yang kuambil.

Ayah tersenyum tulus saat melihat buku kas yang kini menunjukkan angka hijau yang stabil, bukan lagi merah. Senyum lega Ayah itu terasa lebih berharga daripada semua pameran seni bergengsi yang pernah aku impikan saat remaja. Aku menyadari, cinta sejati dan pengabdian diwujudkan bukan hanya melalui kata-kata, tapi melalui pengorbanan nyata yang mengubah arah hidup.

Kini, Kopi Senja telah stabil, namun perjalanan ini belum usai. Aku masih memegang kuas, tetapi kini aku melukis dengan warna tanggung jawab, bukan lagi sekadar hasrat. Pertanyaannya, setelah semua badai ini berlalu, apakah aku masih berhak kembali mengejar mimpi lamaku, ataukah takdir telah menahanku selamanya di balik meja kasir ini, menjadi pelukis realita?