PORTAL7.CO.ID - Di era digital yang serba cepat ini, fenomena *burnout* dan lelah mental bukan lagi sekadar tren percakapan, melainkan realitas pahit yang menjangkiti banyak jiwa. Tekanan untuk selalu produktif dalam balutan *hustle culture* sering kali memaksa manusia melampaui batas fitrahnya, menciptakan keletihan yang tidak hanya menyentuh fisik, tetapi juga merasuk ke dalam relung ruhani. Kita sering terjebak dalam perlombaan semu di media sosial, di mana pencapaian orang lain menjadi standar kebahagiaan yang menyesakkan dada.
Padahal, Islam telah mengingatkan kita jauh-jauh hari bahwa kehidupan dunia ini memang dirancang sebagai tempat ujian yang penuh dengan tipu daya dan keletihan jika kita salah menempatkan orientasi. Ketika ambisi duniawi menjadi satu-satunya kompas, maka jiwa akan mudah goyah saat menemui kegagalan atau tekanan yang bertubi-tubi. Allah SWT memberikan gambaran yang sangat komprehensif mengenai hakikat kehidupan dunia agar kita tidak tersesat dalam ambisi yang melampaui batas.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Terjemahan: "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadid: 20)
Penting bagi setiap Muslim modern untuk memahami bahwa pusat dari segala ketenangan dan kesehatan mental terletak pada kondisi hati. Jika hati sehat dan terhubung dengan Sang Pencipta, maka beban seberat apa pun akan terasa lebih ringan karena adanya keyakinan akan pertolongan-Nya. Sebaliknya, jika hati kering dari dzikir, maka pencapaian sebesar apa pun tidak akan pernah memuaskan dahaga batin yang terus merasa kurang.
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Terjemahan: "Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)
Ujian berupa rasa takut, kekurangan harta, maupun tekanan pekerjaan adalah sunnatullah yang pasti akan dialami oleh setiap insan yang beriman. Namun, Allah menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang mampu bersabar dan tetap menjaga prasangka baik kepada-Nya di tengah himpitan masalah. Kesabaran inilah yang menjadi perisai utama agar *burnout* tidak berubah menjadi keputusasaan yang merusak aqidah dan masa depan.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Terjemahan: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Kesimpulan dari perjuangan melawan lelah mental ini adalah kembali kepada dzikir yang mendalam dan pengenalan akan hakikat diri. Kita bukanlah robot yang dituntut untuk sempurna, melainkan hamba yang dituntut untuk taat dan bersyukur atas setiap proses. Jangan biarkan gemerlap dunia memadamkan cahaya di hatimu, karena ketenangan sejati hanya akan ditemukan saat engkau bersimpuh di hadapan-Nya, mengakui segala lelahmu, dan memohon kekuatan baru.
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon ketetapan hati dan perlindungan dari rasa sedih yang berlarut-larut. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap tenang di tengah badai dunia, memberikan kekuatan pada jiwa yang lelah, dan menjadikan setiap usaha kita sebagai jalan menuju surga-Nya. Amin Ya Rabbal 'Alamin.