PORTAL7.CO.ID - Para Rois Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur baru-baru ini mengadakan forum Halalbihalal yang menghasilkan sebuah usulan penting mengenai pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Pertemuan ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan berlangsung sejak Kamis (7/5).
Forum tersebut bertujuan menyusun rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait persiapan muktamar mendatang. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk kiai sepuh dan pengurus NU dari berbagai daerah, bahkan dari Kalimantan Barat dan DI Yogyakarta.
Hasil dari pertemuan di Aula An-Nawawy ini dirumuskan menjadi lima poin rekomendasi yang bersifat strategis. Dokumen hasil rumusan ini, menurut juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, akan segera dikirimkan secara resmi kepada PBNU dalam waktu dekat.
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh forum Rois Syuriyah se-Jatim adalah mengenai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35. Mereka secara tegas mengusulkan agar perhelatan akbar tersebut dilaksanakan di lingkungan sebuah pondok pesantren.
Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Oing Muid Shohib, menjelaskan bahwa forum tersebut memohon agar PBNU segera menyelenggarakan Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 dengan prinsip yang bersih, transparan, dan bermartabat. "Forum memohon PBNU segera menggelar Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 secara bersih, transparan, dan bermartabat, dengan sepenuhnya berpedoman pada AD/ART serta menjunjung tinggi etika sebagai organisasi para ulama," kata KH Oing Muid Shohib, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo.
Selain itu, para kiai sepuh juga mendesak PBNU untuk mengadakan rapat pleno terlebih dahulu sebelum agenda Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) dimulai. "PBNU diminta menggelar rapat pleno sebelum pelaksanaan Munas dan Konbes berlangsung," ujar KH Oing Muid Shohib, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo.
Rekomendasi penting lainnya adalah perlunya melibatkan unsur Mustasyar PBNU dalam setiap pengambilan keputusan strategis organisasi. Hal ini dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan para ulama senior dalam mengawal arah organisasi ke depan. "Forum mendesak agar setiap pengambilan keputusan dan kebijakan strategis menuju Muktamar melibatkan para sesepuh dari unsur Mustasyar PBNU. Langkah itu dinilai penting sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan para ulama senior," ucap KH Oing Muid Shohib, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo.
Usulan pemindahan lokasi dari hotel atau gedung publik ke pondok pesantren didasarkan pada penegasan jati diri NU sebagai organisasi yang berakar kuat pada tradisi pesantren. "Forum menegaskan bahwa NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil. Atas dasar itu, Muktamar ke-35 didorong untuk diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren guna meneguhkan kembali ruh dan nilai dasar perjuangan jam'iyyah," tutur KH Oing Muid Shohib, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo.
Secara spesifik, forum tersebut secara khusus menunjuk Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri sebagai lokasi yang paling ideal untuk Muktamar ke-35. Penunjukan ini didasarkan pada rekam jejak panjang pesantren tersebut dalam pengabdian kepada Nahdlatul Ulama. "Forum secara khusus mengusulkan agar Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Lirboyo. Pesantren yang berdiri di Kota Kediri ini dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan keilmuan, kaderisasi ulama, dan pengabdian kepada NU," pungkas KH Oing Muid Shohib, Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo.