PORTAL7.CO.ID - Kehidupan manusia di muka bumi bukanlah sebuah eksistensi yang hampa tanpa tujuan, melainkan sebuah panggung ujian yang sangat terukur dan penuh makna. Setiap detik yang kita lalui, setiap napas yang kita hirup, dan setiap tindakan yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Sang Khalik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa penciptaan kematian dan kehidupan adalah untuk menyaring siapa di antara hamba-Nya yang mampu mempersembahkan pengabdian terbaik.
Fondasi utama dari setiap perbuatan seorang mukmin haruslah berpijak pada kesadaran akan pengawasan Ilahi. Tanpa landasan yang kokoh, segala lelah dan peluh dalam beribadah dikhawatirkan hanya akan menjadi debu yang beterbangan, tidak bernilai di timbangan akhirat. Oleh karena itu, memahami parameter kualitas amal melalui kacamata wahyu menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap Muslim yang merindukan rida Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Terjemahan: "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2)
Pilar pertama, yaitu keikhlasan, merupakan ruh dari setiap perbuatan manusia. Ikhlas menuntut pembersihan hati dari segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi seperti riya (ingin dipuji) atau sum'ah (ingin didengar). Allah tidak menerima persekutuan dalam bentuk apa pun, dan Dia hanya menerima apa yang dikhususkan bagi-Nya dengan hati yang tunduk dan murni. Perintah untuk memurnikan ketaatan ini tercermin jelas dalam ayat berikut:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Terjemahan: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai pentingnya standarisasi amal sesuai dengan perintah beliau. Hal ini bertujuan agar umat Islam tetap berada di atas jalan yang lurus dan tidak tersesat dalam bid'ah yang dapat merusak kemurnian ajaran Islam. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Terjemahan: "Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Kesempurnaan pengabdian ini merupakan jalan utama bagi mereka yang mendambakan perjumpaan indah dengan Allah di hari kiamat kelak. Al-Quran merangkum kedua syarat besar ini dalam satu ayat penutup surat Al-Kahfi, yang menjadi pedoman hidup bagi setiap hamba yang bertauhid. Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa kesalehan amal harus dibarengi dengan penjagaan diri dari noda kesyirikan dalam segala bentuknya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.' Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110)