PORTAL7.CO.ID - Di tengah semangat berbagi dan kebaikan yang menjadi ciri khas Ramadhan, tersimpan ironi ekologis berupa peningkatan signifikan volume sampah. Aktivitas konsumsi yang meningkat selama bulan suci ini justru menjadi beban berat bagi sistem pengelolaan limbah di Indonesia.
Peningkatan produksi sampah selama Ramadhan tercatat berkisar antara 5 hingga 20 persen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data ini diperoleh dari tinjauan laporan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sebagaimana dikutip dari akun resmi Rekosistem pada 4 Maret 2026.
Rekosistem pada tahun 2026 mengidentifikasi jenis sampah yang paling mendominasi selama periode Ramadhan. Sampah tersebut meliputi plastik kresek, kotak nasi, botol dan gelas kemasan, serta kemasan yang biasa digunakan untuk bingkisan Lebaran.
Fenomena ini memperkuat isu sampah nasional yang sudah mengkhawatirkan, di mana total timbulan sampah mencapai lebih dari 25 juta ton per tahun dari seluruh kabupaten/kota. Rumah tangga teridentifikasi sebagai penyumbang terbesar volume sampah tersebut, mencapai 56,47 persen.
Data SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2026 menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang efektif masih menjadi tantangan besar. Tercatat, baru 34,27 persen sampah yang berhasil dikelola dengan baik hingga tahun 2025, sementara sisanya 65,73 persen 'terbuang ke lingkungan'.
Tragedi menyedihkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada 8 Maret 2026, yang mengakibatkan tujuh korban jiwa akibat longsor sampah, menjadi peringatan keras. Peristiwa ini mengingatkan pada insiden serupa di TPA Leuwigajah, Cimahi, pada 21 Februari 2005, yang menewaskan 157 orang.
Secara global, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara penghasil sampah terbanyak dan menempati posisi ketiga dalam kategori sampah laut tertinggi. Lebih jauh lagi, Indonesia dinobatkan sebagai 'Juara 1' se-Asia Tenggara dalam hal sampah makanan rumah tangga terbanyak berdasarkan Food Waste Index Report UNEP tahun 2024.
Indeks Performa Lingkungan 2025 menempatkan posisi Indonesia di urutan ke-163 dari total 180 negara dengan skor 33.6. Skor ini mengindikasikan kebutuhan mendesak untuk perbaikan signifikan dalam aspek kesehatan lingkungan, vitalitas ekosistem, dan upaya mitigasi perubahan iklim.
Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk refleksi mendalam mengenai tanggung jawab ekologis, melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Esensi pengendalian diri harus mencakup pengurangan perilaku konsumtif yang berdampak destruktif terhadap bumi.