PORTAL7.CO.ID - Produsen otomotif raksasa Tiongkok, BYD, menunjukkan keteguhan dalam mempertahankan strategi penurunan harga jual kendaraan di pasar domestik mereka. Keputusan ini diambil meskipun pemerintah setempat telah mengeluarkan larangan resmi untuk menghentikan fenomena perang harga yang semakin memanas dalam industri tersebut.
Kebijakan pemangkasan harga yang diterapkan oleh BYD dilaporkan mencapai rata-rata sebesar 10 persen pada berbagai lini produk mereka. Kondisi ini menunjukkan persaingan yang sangat ketat di sektor otomotif Negeri Tirai Bambu belakangan ini.
Pemerintah Tiongkok sebelumnya telah mengeluarkan peringatan resmi kepada seluruh produsen mobil untuk segera menghentikan strategi diskon besar-besaran tersebut. Otoritas khawatir bahwa pemotongan harga yang tidak terkendali dapat memicu deflasi jangka panjang yang berpotensi mengancam stabilitas perekonomian nasional.
Mengupas Keunggulan Yamaha NMAX "TURBO": Pilihan Ideal untuk Petualangan Touring Jarak Jauh
Namun, imbauan dari regulator tersebut tampaknya belum menghasilkan perubahan signifikan di lapangan. Banyak pabrikan besar kendaraan tercatat masih gencar menawarkan potongan harga sebagai upaya mempertahankan pangsa pasar di tengah tren penurunan penjualan secara umum.
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rata-rata penurunan harga untuk model-model BYD justru meningkat hingga 10 persen pada Maret 2026. Tren diskon agresif ini juga diikuti oleh para pesaing utama BYD dalam industri otomotif Tiongkok.
Rival tangguh BYD, seperti Geely dan Chery, terpantau menawarkan diskon yang lebih besar, bahkan mencapai angka 15 persen. Besaran potongan harga yang kompetitif ini dikabarkan relatif stabil dan terus dipertahankan selama periode dua belas bulan terakhir.
Akar permasalahan utama dari lesunya penjualan mobil di China diidentifikasi sebagai kelebihan kapasitas produksi yang signifikan. Situasi ini menciptakan ketidakseimbangan antara jumlah unit yang diproduksi dengan daya serap pasar domestik yang ada.
Sebagai perbandingan, total mobil baru yang berhasil terjual tahun lalu mencapai 23 juta unit, angka yang sangat timpang jika dibandingkan dengan total kapasitas produksi pabrik di Tiongkok yang mencapai 55,5 juta unit per tahun. Kesenjangan besar ini mendorong banyak produsen mengalihkan fokus ke pasar ekspor.
Kelebihan pasokan ini memaksa banyak produsen lokal untuk menggenjot ekspor, terbukti dari lonjakan pengiriman kendaraan listrik dari China yang tercatat naik hingga dua kali lipat pada bulan sebelumnya. Langkah ini dilakukan untuk menyerap kelebihan produksi domestik.