Aku selalu percaya bahwa kesempurnaan adalah satu-satunya standar. Sebagai arsitek muda, Arka, namaku, aku merancang ‘Menara Senja’ bukan hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai manifestasi idealismeku yang paling murni; sebuah monumen bagi mimpi yang tak kenal kompromi. Dunia harus melihat bahwa seni dan fungsi bisa menyatu tanpa cela.
Proyek itu menyerap seluruh jiwaku, setiap jam tidur, setiap rupiah tabungan. Aku mengabaikan peringatan mentor tentang risiko pasar dan realitas anggaran yang kejam, terlalu mabuk oleh janji akan mahakarya abadi. Bagiku, Menara Senja adalah segalanya, cerminan harga diriku yang paling rapuh.
Lalu, badai datang. Bukan badai metaforis, melainkan kenyataan pahit ketika pendanaan ditarik, material yang kurancang khusus ternyata gagal uji, dan seluruh tim yang kubentuk bubar dalam semalam. Menara Senja, yang seharusnya menjulang tinggi, kini hanya menjadi puing-puing administrasi dan tumpukan hutang yang mematikan.
Aku jatuh ke dalam lubang gelap di mana rasa malu adalah satu-satunya teman. Aku mengunci diri, menolak telepon, dan membiarkan debu kegagalan menutupi setiap cermin di rumahku. Aku merasa duniaku berakhir; bagaimana mungkin seorang idealis sepertiku bisa membuat kesalahan sefatal ini? Di tengah kehancuran itu, aku membaca ulang catatan lama dari kakekku, seorang tukang kayu sederhana. Ia menulis, "Nak, keberanian sejati bukanlah tentang membangun sesuatu yang sempurna, melainkan tentang berani memulai lagi setelah segalanya runtuh." Aku menyadari, bahwa semua penderitaan ini adalah babak yang tak terhindarkan dalam Novel kehidupan.
Kedewasaan ternyata bukan hadiah yang datang setelah mencapai puncak, melainkan luka yang sembuh perlahan, meninggalkan bekas yang berfungsi sebagai peta. Bekas luka itu mengajarkan aku bahwa fleksibilitas lebih berharga daripada kekukuhan, dan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh, bukan dewa yang kebal kesalahan.
Aku mulai membereskan puing-puing, satu per satu, bukan lagi untuk membangun Menara Senja yang idealis, tetapi untuk membangun kembali diriku sendiri yang lebih membumi. Aku belajar meminta maaf, belajar menerima bantuan, dan yang paling sulit, belajar memaafkan diriku atas kegagalan yang tak terhindarkan.
Mungkin Menara Senja tidak akan pernah berdiri, tetapi di tempatnya, kini berdiri Arka yang baru. Aku tidak lagi takut pada kegagalan, karena aku tahu, di balik setiap keruntuhan, ada pelajaran yang jauh lebih berharga daripada kejayaan sesaat. Dan kini aku bertanya pada diriku: setelah semua yang hilang, apakah aku siap untuk merancang masa depan yang baru, tanpa embel-embel kesempurnaan?