PORTAL7.CO.ID - Shalat merupakan tiang penyangga agama sekaligus sarana komunikasi vertikal yang paling sakral antara seorang hamba dengan Sang Khaliq. Dalam setiap gerakannya, terkandung simbol ketundukan total yang seharusnya mampu membawa jiwa melampaui batas-batas keduniawian. Namun, realitasnya banyak di antara kita yang terjebak dalam rutinitas mekanis, di mana raga bersujud namun pikiran melayang jauh ke urusan perniagaan dan problematika hidup. Padahal, shalat yang hanya sekadar menggugurkan kewajiban lahiriah tanpa melibatkan kehadiran hati yang utuh akan kehilangan esensi spiritualnya yang paling mendasar.
Keberhasilan seorang mukmin dalam meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat, sangat ditentukan oleh kualitas kekhusyuan dalam shalatnya. Allah SWT telah menetapkan khusyu sebagai parameter utama bagi mereka yang beruntung, sebagaimana firman-Nya yang abadi dalam pembukaan Surah Al-Mu'minun:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5)
Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS. Al-Mu'minun: 1-5)
Bagi jiwa yang masih terbelenggu oleh syahwat dan cinta dunia, menjalankan shalat dengan penuh konsentrasi seringkali terasa sebagai beban yang sangat berat. Namun, bagi mereka yang telah merasakan manisnya iman dan menyadari bahwa shalat adalah momen perjumpaan dengan Rabbnya, beban tersebut berubah menjadi kenikmatan. Allah SWT memberikan petunjuk mengenai fenomena ini dalam Al-Quran agar kita senantiasa memohon pertolongan melalui kesabaran dan shalat yang berkualitas:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)
Terjemahan: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Derajat tertinggi dalam shalat adalah ketika seseorang mampu mencapai tingkatan Ihsan, di mana ia beribadah seolah-olah melihat Allah secara langsung. Kesadaran akan kehadiran Allah ini akan mematikan seluruh gangguan pikiran yang mencoba memalingkan hamba dari Sang Pencipta. Hal ini selaras dengan hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemahan: "Dia (Jibril) bertanya: 'Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan'. Beliau (Rasulullah) menjawab: 'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu'." (HR. Muslim no. 8)
Kekuatan shalat dalam memperbaiki akhlak manusia ditegaskan oleh Allah SWT sebagai salah satu fungsi utama dari ibadah tersebut. Tanpa khusyu, shalat hanyalah gerakan fisik yang hampa, namun dengan khusyu, shalat menjadi energi yang mampu menyucikan jiwa dari segala kotoran batin. Mari kita renungkan firman-Nya berikut ini:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Terjemahan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 45)