Aku selalu percaya bahwa kesuksesan diukur dari seberapa tinggi kau bisa melompat, bukan seberapa kuat kau bertahan setelah terjatuh. Keyakinan sombong itu membuatku terbang terlalu tinggi, menatap remeh tanah yang kutinggalkan, hingga akhirnya gravitasi keangkuhan menarikku jatuh tanpa ampun. Proyek impian yang kubangun dengan seluruh dana dan egoku, hancur lebur dalam satu malam.

Pagi itu, yang tersisa hanyalah laporan kerugian, keheningan telepon, dan rasa malu yang mencekik. Aku mendapati diriku duduk di lantai marmer dingin, menatap kosong tumpukan berkas yang kini tak lebih dari sampah kertas. Dunia yang kukenal—dunia pujian, janji manis, dan kemudahan—telah lenyap, meninggalkan aku sendirian di tengah badai yang diciptakan oleh tanganku sendiri.

Selama berminggu-minggu, aku memilih bersembunyi, membiarkan keputusasaan menjadi selimut tebal yang mematikan. Setiap ketukan pintu terasa seperti vonis, dan setiap notifikasi di ponsel adalah pengingat betapa bodohnya aku. Aku marah pada semesta, pada rekan kerja, dan terutama pada diriku yang terlalu yakin bahwa aku kebal terhadap kegagalan.

Titik balik itu datang saat aku kehabisan uang untuk membeli sebungkus nasi sederhana. Keangkuhan tidak bisa dimakan, dan kesombongan tidak bisa membayar tagihan listrik. Aku menyadari, kedewasaan bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang kemampuan untuk memulai kembali dari ketiadaan, tanpa bersembunyi di balik bayangan masa lalu.

Aku mulai menerima pekerjaan kasar, pekerjaan yang dulu pasti akan kucibir. Tangan yang terbiasa menandatangani kontrak jutaan, kini membersihkan lantai dan mengangkat kardus. Rasa sakit fisik itu jauh lebih jujur daripada rasa sakit emosional yang selama ini kupelihara; ia mengajarkanku nilai keringat dan kerendahan hati.

Di tengah kesibukan yang merangkak perlahan itu, aku menemukan bahwa setiap interaksi kecil, setiap senyuman tulus dari orang yang tidak tahu siapa aku sebelumnya, adalah hadiah. Ini adalah babak paling jujur dalam Novel kehidupan yang pernah kutulis, sebuah kisah di mana kebahagiaan sejati tidak ditemukan di puncak piramida, melainkan di dasar lembah.

Pengalaman itu mengubahku dari seorang pelari cepat yang arogan, menjadi seorang pendaki yang sabar dan menghargai setiap pijakan. Aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan kurikulum terberat yang harus dilalui jiwa yang ingin tumbuh. Kedewasaan bukanlah gelar yang didapatkan, melainkan luka yang disembuhkan dengan kebijaksanaan.

Kini, aku berdiri lagi, tidak setinggi dulu, tetapi dengan fondasi yang jauh lebih kokoh. Aku tidak lagi takut kehilangan, karena aku tahu cara membangunnya kembali. Pertanyaannya, setelah semua yang kulewati, apakah aku benar-benar siap menghadapi ujian berikutnya yang mungkin jauh lebih berat?