PORTAL7.CO.ID - Menteri Luar Negeri Sugiono secara resmi mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menjadwalkan kunjungan kenegaraan ke Prancis dalam waktu dekat. Agenda utama kunjungan ini adalah untuk menindaklanjuti upaya penguatan hubungan bilateral antara kedua negara.
Kepastian mengenai rencana kunjungan ini disampaikan langsung oleh Menlu Sugiono saat menghadiri sebuah diskusi publik yang diselenggarakan di kawasan Jakarta Pusat pada hari Rabu, tanggal 22 April 2026. Kedatangan Presiden Prabowo ke Prancis ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya.
Kunjungan yang akan datang ini merupakan kelanjutan dari pertemuan tertutup yang telah berlangsung antara Presiden Prabowo dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pertemuan awal tersebut terjadi di Prancis pada hari Selasa, tanggal 14 April 2026.
Dalam pertemuan sebelumnya, kedua kepala negara telah mencapai kesepakatan penting mengenai peningkatan kolaborasi di sektor-sektor strategis. Fokus utama kesepakatan tersebut mencakup bidang pertahanan dan upaya penguasaan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista).
Menlu Sugiono menjelaskan bahwa fokus pembicaraan dalam pertemuan tersebut adalah penekanan kembali atas pentingnya kemitraan strategis antara Indonesia dan Prancis. Hubungan diplomatik ini diarahkan untuk mencakup transfer ilmu pengetahuan, bukan hanya sebatas transaksi jual beli perangkat militer.
"Pertemuan tersebut dilakukan secara tertutup empat mata, namun beberapa poin yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini adalah bahwa tentu saja Presiden menyampaikan kepada Presiden Macron, menekankan kembali pentingnya memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis," jelas Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Pemerintah Indonesia menargetkan adanya kerja sama yang signifikan dalam bidang pendidikan, khususnya pada disiplin ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Langkah ini diambil untuk mendukung sektor pertahanan nasional secara berkelanjutan.
Tujuan dari kerja sama pendidikan ini adalah untuk memastikan bahwa proses transfer teknologi berjalan secara komprehensif atas perangkat militer yang telah diakuisisi dari Prancis. Ini merupakan upaya untuk meningkatkan kapabilitas nasional.
"Yang kemudian diturunkan di dalam keinginan untuk bekerja sama di bidang pendidikan, khususnya di sektor STEM sehingga terjadi apa yang disebut satu kerja sama beyond procurement kita tidak hanya sebatas membeli saja, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang yang kita beli," ujar Sugiono.