PORTAL7.CO.ID - Persiapan menyambut Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 telah memasuki fase krusial, menandai dimulainya langkah sistematis menuju forum tertinggi organisasi. Kepanitiaan resmi untuk hajatan besar ini telah disahkan melalui rapat gabungan antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, dilansir dari Cahaya.
Saifullah Yusuf, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, menerima amanah penting sebagai Ketua Panitia Muktamar mendatang. Penetapan ini menjadi penanda dimulainya tahapan organisasi menuju pergantian estafet kepemimpinan.
Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, menegaskan bahwa pintu pencalonan Ketua Umum PBNU terbuka lebar bagi seluruh kader yang memenuhi kriteria organisasi. Ini menunjukkan komitmen PBNU untuk menjaring pemimpin terbaik dari internal.
Meskipun demikian, Gus Ipul menekankan bahwa terdapat parameter kualitas dan integritas yang harus dipenuhi oleh setiap kandidat yang berambisi memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Kualitas moral menjadi sorotan utama dalam proses penjaringan.
Terkait kriteria tersebut, Gus Ipul menyatakan bahwa rekam jejak atau track record calon akan menjadi faktor penentu yang sangat signifikan dalam proses penilaian nantinya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengalaman organisasi yang teruji.
"Untuk syaratnya, tentu harus punya track record yang baik. NU punya kriteria, ada yang tertulis dan tidak tertulis," ujar pria yang juga menjabat Menteri Sosial RI tersebut, menekankan adanya standar baku yang harus dipatuhi.
Rapat gabungan tersebut juga telah menetapkan struktur pengurus inti yang akan bertanggung jawab penuh atas seluruh rangkaian acara Muktamar 2026, mulai dari tahap pengarahan hingga eksekusi teknis di lapangan.
Secara tentatif, pelaksanaan puncak Muktamar NU 2026 dijadwalkan akan berlangsung pada rentang waktu bulan Juli atau Agustus tahun 2026 mendatang. Penetapan jadwal ini menjadi kerangka waktu bagi seluruh panitia bekerja.
Sebelum Muktamar terlaksana, PBNU merancang serangkaian agenda strategis, termasuk penyelenggaraan Konvensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Alim Ulama di tingkat nasional. Agenda ini penting untuk konsolidasi pemikiran.