Arya selalu berpikir hidup adalah rangkaian festival tanpa akhir, penuh tawa dan rencana masa depan yang muluk. Ia menjalani hari-hari dengan ringan, percaya bahwa jaring pengaman keluarga akan selalu tersedia untuk menahan setiap jatuh kecilnya.
Namun, badai datang tanpa peringatan, merobek lapisan kenyamanan itu hingga ke akar terdalam. Ayah jatuh sakit parah, dan tiba-tiba, beban mengurus toko buku kecil keluarga jatuh di pundaknya yang belum benar-benar siap memikul apa pun.
Malam-malam Arya berubah menjadi sesi perhitungan angka yang rumit dan negosiasi yang melelahkan, jauh dari halaman-halaman fiksi petualangan yang biasa ia nikmati. Rasa panik dan marah sempat mendominasi pikirannya, mengapa ia harus kehilangan masa mudanya secepat dan sedramatis ini? Ia mencoba menolak kenyataan, berharap waktu akan berputar mundur, tetapi tumpukan tagihan dan wajah cemas ibunya adalah pengingat yang kejam. Dalam kesendirian, ia mulai belajar; ia membaca buku akuntansi kuno, berbicara dengan pemasok yang skeptis, dan memaksa dirinya tersenyum kepada pelanggan.
Perlahan, di antara bau kertas tua dan debu yang menempel di rak-rak, ia menemukan semacam ketenangan yang asing. Pengalaman ini adalah guru terberat, namun paling jujur, yang pernah ia temui. Ia menyadari bahwa apa yang ia jalani sekarang adalah babak terpenting dari Novel kehidupan itu sendiri, yang tidak bisa diubah atau ditulis ulang.
Kedewasaan, ia pahami, bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu bangkit setelah dihantam kenyataan. Arya mulai melihat dunia dengan mata yang lebih tajam, menghargai setiap remah keberhasilan kecil yang ia dapatkan dengan keringat sendiri.
Ada impian besar yang harus ia simpan rapat-rapat di laci, seperti beasiswa studi luar negeri yang ia tolak dengan berat hati tanpa memberitahu siapa pun. Keputusan itu menyakitkan seperti sayatan, tetapi tanggung jawab terhadap keluarganya jauh lebih lantang memanggil dari lubuk hati.
Toko itu memang belum sepenuhnya pulih, tetapi Arya telah berubah total; ia bukan lagi pemuda naif yang mudah mengeluh. Ia kini adalah nahkoda yang belajar membaca arah angin badai dan mengarahkan kapalnya dalam kegelapan.
Kini, ia berdiri di ambang pintu toko, menatap langit senja yang memerah di atas cakrawala kota. Apakah pengorbanan besarnya ini akan terbayar lunas, ataukah takdir masih menyimpan ujian yang jauh lebih berat di halaman berikutnya yang belum terbuka?