Dulu, dunia terasa seperti kanvas yang baru saja kusiapkan. Aku adalah Arka, seniman jalanan yang percaya bahwa kebebasan adalah palet warna terbaik. Hidupku terfokus pada nada-nada minor dan pameran tunggal yang hanya ada dalam angan.
Semua berubah saat Ayah jatuh sakit, meninggalkan bengkel tua yang sudah puluhan tahun menjadi napas keluarga. Tiba-tiba, kanvas itu robek; kebebasan berganti dengan tumpukan faktur yang harus segera diselesaikan. Aku, yang bahkan tak tahu cara mengganti busi, harus mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam.
Awalnya, penolakan itu sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin aku harus menukar gitar kesayangan dengan oli bekas, atau menukar galeri seni dengan bau besi yang pekat? Setiap senja, aku merasa seperti mengubur sebagian besar diriku yang lama, bagian yang paling riang dan bebas.
Malam-malamku yang seharusnya diisi dengan melodi kini dihabiskan untuk menghitung neraca rugi laba. Aku harus belajar berhadapan dengan karyawan yang jauh lebih tua dan pelanggan yang menuntut kesempurnaan. Rasa takut diubah menjadi adrenalin; aku tidak boleh gagal, bukan demi diriku sendiri, tetapi demi warisan yang diperjuangkan Ayah seumur hidupnya.
Kesulitan itu adalah guru yang kejam namun jujur. Aku mulai memahami bahwa tanggung jawab bukan sekadar tugas, melainkan janji yang harus ditepati. Aku belajar memimpin tanpa berteriak, dan belajar memahami masalah orang lain sebelum menyelesaikan masalahku sendiri.
Semua itu mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah dongeng linier, melainkan sebuah siklus rumit yang penuh babak tak terduga. Inilah esensi dari Novel kehidupan yang sesungguhnya; kita adalah penulis sekaligus pemeran utamanya, dan setiap kesulitan adalah alur cerita yang membentuk karakter.
Punggungku kini terasa lebih berat, namun jiwaku terasa lebih ringan karena telah menemukan makna. Aku tak lagi melihat dunia hanya dari sudut pandangku yang sempit; aku melihatnya dari mata setiap karyawan yang menggantungkan hidupnya pada bengkel ini.
Aku memang kehilangan beberapa tahun yang seharusnya kupersembahkan pada seni, namun sebagai gantinya, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kemampuan untuk berdiri tegak di tengah badai. Kedewasaan itu bukan datang dari usia, melainkan dari seberapa besar beban yang berhasil kita pikul tanpa menyerah.
Bengkel itu kini stabil, namun Arka yang dulu telah lenyap. Dia digantikan oleh seseorang yang tahu bahwa mimpi bisa ditunda, tetapi tanggung jawab harus dijemput. Pertanyaannya, setelah semua badai berlalu, apakah aku masih punya keberanian untuk memungut kembali kuas dan melukis warna yang telah lama memudar itu?