Aku selalu percaya bahwa hidup adalah garis lurus, di mana setiap usaha harus berbanding lurus dengan hasil yang sempurna. Risa, nama yang kuusung, adalah definisi dari ambisi yang terstruktur, yang menganggap kegagalan sebagai musuh yang harus dihindari dengan segala cara. Aku menyusun rencana hidupku hingga lima tahun ke depan, yakin bahwa aku memegang kendali penuh atas takdirku.
Titik balik itu datang bukan dalam bentuk kemenangan, melainkan kehancuran. Proyek penelitian yang telah menyita seluruh jiwaku, yang kuanggap tiket emas menuju masa depan, tiba-tiba ditolak mentah-mentah tanpa ruang banding. Dunia yang kupikir kokoh, runtuh dalam satu surel singkat berisi penolakan yang dingin.
Aku tenggelam dalam lubang gelap kekecewaan, membiarkan debu kegagalan menutupi semua cahaya. Selama berminggu-minggu, kamar menjadi benteng pertahananku dari tatapan dunia yang terasa menghakimi. Aku bertanya pada cermin, mengapa semua pengorbanan ini berakhir sia-sia, dan mengapa aku merasa begitu rapuh.
Namun, sunyi yang mencekik itu perlahan menjadi guru terbaik. Di tengah kegelapan, aku mulai mendengar suara-suara kecil yang sebelumnya teredam oleh hiruk pikuk ambisi. Aku menyadari bahwa kesempurnaan yang kukejar bukanlah tujuan, melainkan topeng yang menutupi ketakutan terbesarku: ketakutan untuk tidak diterima.
Aku mulai bangkit dengan langkah yang berbeda, bukan lagi langkah yang tergesa-gesa mencari validasi, melainkan langkah yang penuh kehati-hatian dalam memahami proses. Aku kembali meninjau proyekku, bukan untuk mencari pembenaran, melainkan untuk menemukan celah kelemahan yang selama ini kusembunyikan di balik rasa percaya diri yang berlebihan.
Momen itu adalah realisasi bahwa hidup ini bukanlah buku panduan dengan jawaban pasti, melainkan sebuah fiksi yang terus ditulis. Aku menyadari bahwa aku sedang membaca halaman-halaman dari Novel kehidupan yang penuh plot twist dan karakter abu-abu, di mana kedewasaan adalah kemampuan untuk menerima bahwa kita tidak bisa mengedit setiap bab sesuai keinginan kita.
Aku mulai menerima bantuan, belajar dari orang-orang yang pernah gagal lebih parah dariku, dan menemukan kekuatan baru dalam kerentanan. Kegagalan itu mengajarkanku empati, kesabaran, dan yang terpenting, bahwa nilai diriku tidak ditentukan oleh daftar pencapaian yang tertera di CV.
Perlahan, aku membangun kembali, memilih jalan yang terasa lebih autentik, meski jauh lebih berliku. Aku menemukan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada upaya untuk terus bergerak maju, bahkan ketika jalannya terasa berat dan tidak jelas. Kedewasaan adalah menerima bahwa peta yang kita buat di awal seringkali harus dibuang di tengah perjalanan.
Kini, aku tidak lagi takut pada kegagalan. Aku memandangnya sebagai babak penting, sebagai penanda bahwa aku berani mengambil risiko. Aku telah menjadi penulis yang lebih baik untuk ceritaku sendiri.