Pelaksanaan sholat tarawih di bulan Ramadhan tidak selalu harus dilakukan secara berjamaah di masjid bagi setiap umat Muslim. Berbagai kendala seperti tuntutan pekerjaan, menjaga anak, hingga kondisi kesehatan seringkali menjadi alasan seseorang tetap berada di kediaman. Oleh karena itu, mengerjakan ibadah sunnah ini secara mandiri atau munfarid menjadi solusi yang sah secara syariat.

Umat Muslim memiliki fleksibilitas dalam menentukan jumlah rakaat saat menunaikan tarawih di rumah sesuai dengan kemampuannya. Mayoritas ulama dari empat mazhab besar umumnya menyepakati jumlah 20 rakaat, sementara riwayat lain menyebutkan 8 rakaat berdasarkan hadis Aisyah RA. Bahkan dalam tradisi mazhab Maliki di Madinah, terdapat praktik pelaksanaan hingga 36 rakaat yang ditutup dengan witir.

Langkah awal dalam memulai sholat tarawih mandiri adalah membaca niat dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala. Setelah melakukan takbiratul ihram, mushalli atau orang yang sholat disunnahkan membaca doa iftitah sebagai pembuka ibadah. Urutan ini tidak berbeda dengan sholat sunnah pada umumnya, sehingga sangat mudah dipraktikkan oleh siapa saja.

Dalam setiap rakaat, pembacaan surah Al-Fatihah wajib diikuti dengan surah pendek Al-Qur'an seperti At-Takasur hingga Al-Lahab secara berurutan. Gerakan sholat mulai dari rukuk, i’tidal, hingga sujud harus dilakukan dengan tuma’ninah atau tenang agar ibadah menjadi sempurna. Penutupan setiap dua rakaat dilakukan dengan duduk tahiyat akhir yang diakhiri dengan salam secara tertib.

Rangkaian ibadah malam di bulan suci ini belum lengkap tanpa ditutup dengan pelaksanaan sholat witir yang berjumlah ganjil. Umat Muslim dapat memilih untuk mengerjakan satu rakaat saja, tiga rakaat sekaligus, atau format dua rakaat ditambah satu rakaat. Niat untuk setiap pilihan jumlah rakaat tersebut harus dilafalkan secara jelas di dalam hati sebelum memulai takbir.

Jika memilih format dua rakaat ditambah satu rakaat, disunnahkan membaca surah Al-A’la pada rakaat pertama dan Al-Kafirun pada rakaat kedua. Setelah salam pertama, mushalli segera bangkit untuk menyelesaikan satu rakaat penutup dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kombinasi surah-surah tersebut merupakan anjuran yang lazim dipraktikkan untuk menyempurnakan ibadah malam.

Kemudahan dalam menjalankan ibadah ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi hamba-Nya untuk tetap meraih pahala di tengah kesibukan. Meskipun dilakukan sendirian di rumah, kualitas kekhusyukan tetap menjadi kunci utama dalam menghidupkan malam-alam Ramadhan. Semoga panduan tata cara dan niat ini membantu masyarakat dalam meningkatkan ketakwaan sepanjang bulan suci.