PORTAL7.CO.ID - Dunia hari ini telah mengalami pergeseran paradigma yang luar biasa, di mana dinding-dinding pesantren yang kokoh dan mimbar-mimbar masjid yang statis bukan lagi satu-satunya pusat gravitasi ilmu. Bagi Generasi Z, ruang sakral itu kini telah berpindah ke dalam genggaman layar gawai yang menyala tanpa henti selama dua puluh empat jam sehari. Dakwah telah bertransformasi dari sekadar orasi tatap muka menjadi konten visual yang harus bersaing ketat dengan algoritma hiburan yang sangat dinamis. Namun, di balik kemudahan akses informasi ini, muncul sebuah tantangan eksistensial mengenai bagaimana menjaga marwah agama agar tidak tergerus oleh kedangkalan makna.

Islam memandang bahwa setiap kata yang dilepaskan ke ruang publik, termasuk ruang siber, memiliki bobot spiritual yang sangat besar. Media sosial bukan sekadar alat, melainkan ladang amal yang jika tidak dikelola dengan iman akan menjadi bumerang bagi pelakunya. Kita diingatkan oleh Allah SWT tentang perumpamaan perkataan yang baik dalam Al-Qur'an sebagai sebuah pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Hal ini menjadi landasan bahwa konten dakwah digital harus memiliki substansi yang kuat, bukan sekadar mengejar tren sesaat yang tidak berakar pada kebenaran hakiki.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Terjemahan: "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim: 24-25)

Dalam menghadapi tantangan arus informasi yang begitu deras, Generasi Z dituntut untuk memiliki filter spiritual yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh konten yang provokatif. Allah SWT telah memberikan panduan operasional dalam berdakwah dan berinteraksi, sebagaimana yang termaktub dalam Surah An-Nahl. Ayat ini menekankan pentingnya kebijaksanaan (hikmah) dan tutur kata yang baik sebagai pilar utama dalam mengajak manusia menuju jalan Allah, terutama di ruang digital yang sering kali penuh dengan perdebatan tidak produktif.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Kesadaran akan pengawasan Ilahi (muraqabah) harus menjadi landasan utama bagi setiap konten kreator Muslim maupun pengguna media sosial secara umum. Setiap aktivitas digital kita, mulai dari komentar hingga unggahan video, tidak ada yang luput dari catatan malaikat. Oleh karena itu, integritas antara kehidupan nyata dan kehidupan digital harus selaras. Jangan sampai kita menjadi orang yang fasih bicara agama di layar gawai, namun kehilangan adab dan akhlak saat berinteraksi dengan sesama di dunia nyata.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra: 36)

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon petunjuk kepada Allah agar lisan dan jempol kita selalu dibimbing untuk menyebarkan kebaikan. Ruang digital adalah amanah besar yang harus dimanfaatkan untuk meninggikan kalimatullah dengan cara yang bermartabat. Semoga setiap konten yang kita produksi dan konsumsi menjadi saksi pembela kita di hari perhitungan kelak, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala meskipun kita telah tiada dari dunia fana ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (QS. Al-Ahzab: 70-71)