PORTAL7.CO.ID - Surah Al-Fatihah merupakan mahkota dari seluruh wahyu yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai *Ummul Kitab*, ia tidak hanya sekadar pembuka lembaran mushaf, melainkan sebuah ringkasan agung yang mencakup seluruh dimensi ajaran Islam, mulai dari akidah, ibadah, hingga manhaj kehidupan. Di tengah untaian ayat-ayat yang mulia ini, terdapat satu titik sentral yang menjadi jembatan antara pengagungan kepada Sang Khaliq dengan permohonan tulus seorang hamba. Ayat kelima, *Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in*, adalah sebuah manifesto teologis yang menegaskan orientasi hidup seorang mukmin secara totalitas.

Untuk memahami kedudukan ayat ini, kita harus melihatnya dalam kesatuan utuh Surah Al-Fatihah yang senantiasa kita baca dalam setiap rakaat shalat. Allah SWT berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (٧)

Terjemahan: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 1-7)

Pilar pertama, *Iyyaka Na’budu*, adalah pernyataan berlepas diri dari syirik (*tabarru’ min ash-shirk*). Hal ini sejalan dengan tujuan utama penciptaan manusia dan jin, yaitu untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Ibadah dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada ritual formal, melainkan mencakup seluruh gerak-gerik kehidupan yang diniatkan karena-Nya. Seorang hamba yang benar-benar memahami ayat ini akan menyadari bahwa seluruh eksistensinya adalah milik Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang agung:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (١٦٣)

Terjemahan: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An'am: 162-163)

Kesadaran akan ketergantungan mutlak kepada Allah ini pernah dipesankan secara mendalam oleh Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas RA. Pesan ini menjadi fondasi bagi setiap Muslim agar senantiasa menggantungkan harapannya hanya kepada Sang Pencipta, terutama dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh tantangan. Beliau SAW bersabda dalam sebuah hadits yang panjang dan penuh hikmah:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Terjemahan: Wahai anak muda, aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika segenap umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakaimu, mereka tidak akan mampu mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. (HR. Tirmidzi)

Keteguhan dalam memegang prinsip *Iyyaka Nasta’in* juga akan melahirkan sikap tawakal yang produktif. Tawakal bukan berarti berdiam diri tanpa usaha, melainkan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin seraya meyakini bahwa hasil akhir berada di tangan Allah. Allah SWT menjanjikan jalan keluar dan rezeki yang tak disangka-sangka bagi mereka yang benar-benar bertakwa dan berserah diri kepada-Nya dengan tulus, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

Terjemahan: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 2-3)