PORTAL7.CO.ID - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, baru-baru ini memberikan klarifikasi tegas mengenai tudingan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki agenda terselubung terkait kontestasi politik Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Penegasan ini disampaikan dalam sebuah acara diskusi di kediamannya menyikapi berbagai spekulasi yang beredar di publik.
Klarifikasi ini dilakukan pada hari Rabu, 6 Mei 2026, di Kalibata, Jakarta Selatan, saat Menteri Amran bertemu dengan ratusan mahasiswa untuk membahas tata kelola pangan dan sektor pertanian nasional. Diskusi tersebut menjadi momen penting untuk meluruskan persepsi publik mengenai tujuan sebenarnya dari program unggulan pemerintah tersebut.
Fokus utama program MBG, menurut Menteri Amran, adalah memberikan dukungan nutrisi esensial bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Kelompok sasaran prioritas tersebut meliputi anak-anak dalam kandungan serta balita yang rentan terhadap masalah gizi.
Menteri Amran secara eksplisit menolak adanya keterkaitan antara program bantuan gizi ini dengan kepentingan elektoral di masa mendatang. Ia menekankan bahwa substansi program ini murni sosial dan tidak berorientasi pada politik praktis.
"Kalau mau segi politik, Bapak Presiden ini tidak ada segi politis. Anak SD, anak dalam kandungan, yang kita beri. Pemilu 2029 enggak ada hubungannya," kata Amran, Menteri Pertanian.
Implementasi program MBG melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPOG) sebagai titik serapan utama bagi hasil panen dari sekitar 160 juta petani yang tersebar di seluruh Indonesia. Mekanisme ini dirancang untuk menjamin stabilitas permintaan terhadap komoditas pangan lokal secara berkelanjutan.
Keberadaan dapur umum MBG disebut telah menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan di tingkat akar rumput desa. Dengan menyerap hasil pertanian langsung dari sumbernya, perputaran uang dipastikan tetap berada dalam ekosistem masyarakat terbawah.
"Ekonomi berputar di desa itu. Pasar ini hidup dan langsung yang merasakan rakyat," tutur Amran, Menteri Pertanian.
Dampak positif program ini juga tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan sektor pertanian mencapai 4,97 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut menempatkan sektor ini sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ketiga dengan kontribusi 12,57 persen.