PORTAL7.CO.ID - Di era disrupsi yang ditandai dengan perubahan cepat dan ketidakpastian, manusia modern seringkali kehilangan arah dan pegangan hidup. Nilai-nilai materialisme dan sekularisme yang kian masif mereduksi eksistensi manusia hanya sebatas pengabdi materi dan kesenangan duniawi yang fana. Dalam kondisi inilah, Tauhid hadir bukan sekadar sebagai konsep teologis yang kaku, melainkan sebagai fondasi eksistensial yang memberikan makna terdalam bagi setiap hembusan napas seorang mukmin.
Tauhid adalah kompas moral yang memastikan bahwa di tengah riuhnya arus modernitas, orientasi hidup kita tetap tertuju pada Sang Khalik. Tanpa fondasi akidah yang lurus, manusia akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pragmatis yang seringkali menabrak norma-norma ketuhanan. Sebagai langkah awal untuk meneguhkan kembali komitmen spiritual kita, mari kita renungkan firman Allah SWT mengenai totalitas pengabdian dalam hidup:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)." (QS. Al-An'am: 162-163)
Memahami sifat-sifat Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mengatur adalah benteng utama agar kita tidak terjebak dalam pengkultusan terhadap materi. Setiap inovasi dan kemajuan peradaban seharusnya dipandang sebagai wasilah (sarana) untuk mengenal kebesaran-Nya, bukan justru menjadi tabir yang menghalangi kita dari cahaya Ilahi. Allah SWT telah menegaskan kemahakuasaan-Nya yang meliputi segala aspek waktu dan eksistensi:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 3-4)
Dalam sejarah Islam, para Nabi dan Rasul diutus untuk meluruskan penyimpangan akidah yang terjadi di tengah masyarakatnya yang juga mengalami degradasi moral akibat pemujaan terhadap berhala, baik berhala batu maupun berhala hawa nafsu. Tantangan kita saat ini mungkin berbeda secara bentuk, namun esensinya tetap sama: bagaimana menjaga agar hati tetap tertambat pada Kalimatullah yang kokoh, sebagaimana perumpamaan pohon yang baik dalam Al-Quran:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Terjemahan: Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim: 24-25)
Internalisasi nilai Tauhid ini harus dimulai dari perbaikan hati, karena hati adalah motor penggerak seluruh anggota badan. Jika hati telah dipenuhi dengan keagungan Allah, maka seluruh tindakan yang keluar darinya akan mencerminkan akhlak yang mulia dan kemaslahatan bagi alam semesta. Hal ini sejalan dengan wasiat Rasulullah SAW mengenai pentingnya menjaga segumpal daging dalam tubuh manusia agar tetap baik:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Terjemahan: Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)