PORTAL7.CO.ID - Di tengah riuhnya ruang digital yang sering kali dipenuhi oleh kabut disinformasi, sebuah langkah besar diambil untuk menjaga kewarasan publik. Pada Jumat (17/4/2026), Jakarta menjadi saksi lahirnya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+) sebagai wadah bagi para jurnalis berpengalaman.

Kehadiran wadah ini dipandang sebagai oase di tengah tantangan fragmentasi sosial yang sempat mengguncang Indonesia sepanjang tahun sebelumnya. Dilansir dari Detikcom, deklarasi ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan sosial dan dominasi sentimen negatif yang masif di berbagai platform media sosial.

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo memberikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif ini karena urgensinya dalam menjaga arah komunikasi bangsa. Kehadiran para jurnalis senior diharapkan mampu menjadi kompas moral di tengah derasnya arus informasi yang tidak terverifikasi.

"Kita sedang menghadapi situasi di mana ruang publik dipenuhi informasi yang tidak semuanya benar. Polarisasi sosial semakin tajam, bahkan berdampak ke hubungan antar warga. Dalam kondisi seperti ini, peran wartawan senior sangat penting untuk menjaga arah dan akal sehat publik," ujar Bamsoet.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua MPR RI ke-15 ini mengenang bagaimana gelombang demonstrasi besar dan narasi konflik sempat mewarnai ekosistem informasi tanah air sepanjang tahun 2025. Kondisi tersebut dinilai kian mengkhawatirkan karena diperkuat oleh keberadaan buzzer yang memanipulasi narasi publik.

Bamsoet menekankan bahwa ancaman nyata bagi persatuan bangsa saat ini adalah perang informasi yang terjadi secara sistematis. Ia mengajak para jurnalis senior untuk turun tangan dalam menjernihkan situasi demi kepentingan nasional yang lebih besar.

"Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang informasi sedang terjadi. Hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa. Di sinilah wartawan senior harus mengambil peran sebagai penjernih sekaligus penyeimbang," tegas Bamsoet.

Selain persoalan hoaks, tantangan besar lainnya yang disoroti adalah eksploitasi isu agama dan etnis untuk kepentingan politik praktis. Hal ini dinilai mempersempit ruang dialog yang sehat dan memicu potensi munculnya konflik horizontal di berbagai lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, pers diharapkan tetap teguh berdiri sebagai benteng pertahanan utama dalam melawan segala bentuk provokasi. Media massa memiliki tanggung jawab besar untuk tidak terjebak dalam pola pemberitaan yang justru memperuncing perbedaan di tengah warga.