PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah menegaskan bahwa program "Gentengisasi" untuk menyeragamkan penggunaan atap genteng tanah liat tidak akan diberlakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan mendalam mengenai kondisi spesifik di berbagai daerah.

Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Kementerian PKP, Fitrah Nur, menggarisbawahi bahwa implementasi desain perumahan kini harus mengadopsi kearifan lokal. Hal ini penting agar pembangunan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi geografis serta kepercayaan yang dianut oleh masyarakat setempat di lokasi tersebut.

Salah satu kendala signifikan ditemukan di Kepulauan Bangka Belitung, di mana terdapat persepsi budaya yang kuat terkait material atap. Persepsi ini sangat memengaruhi pilihan masyarakat dalam menentukan material penutup rumah mereka.

Fitrah Nur menjelaskan mengenai sensitivitas budaya tersebut saat berbicara di Kabupaten Tangerang, Senin (30/3/2026). "Di sana ada persepsi masyarakat kalau tidur di bawah tanah itu seperti orang meninggal. Kan orang yang meninggal yang tidur di bawah tanah," ujar Fitrah.

Selain isu budaya, aspek keselamatan menjadi pertimbangan krusial, terutama di wilayah Maluku yang dikenal memiliki tingkat kerawanan gempa bumi yang cukup tinggi. Prioritas keselamatan warga menjadi faktor penentu dalam pemilihan material atap.

Di wilayah rawan gempa seperti Maluku, masyarakat cenderung memilih atap metal yang dapat dipaku dengan kuat pada struktur bangunan. Pilihan ini dianggap lebih aman dibandingkan genteng yang hanya ditumpuk dan berisiko berjatuhan saat terjadi guncangan hebat.

Faktor logistik dan ketersediaan bahan baku juga menjadi penghalang utama penerapan gentengisasi di Kalimantan. Wilayah tersebut dikenal minim ketersediaan bahan baku tanah liat yang memadai untuk produksi genteng dalam skala besar.

Pengiriman genteng dari luar pulau dianggap sangat tidak efisien karena akan meningkatkan beban biaya pembangunan secara signifikan. Oleh karena itu, penggunaan material lokal yang lebih terjangkau menjadi solusi yang lebih realistis di sana, dilansir dari Detikcom.

Berdasarkan berbagai pertimbangan teknis, budaya, dan logistik tersebut, Fitrah Nur menyatakan bahwa fokus program gentengisasi akan tetap terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Lampung yang memiliki kesamaan budaya.