Langit sore itu berwarna jingga pekat, seolah ikut merasakan beratnya langkah kakiku kembali ke rumah tua ini. Aku pulang bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai jiwa yang remuk oleh ekspektasi dunia yang begitu kejam.
Di ruang tamu yang berdebu, aku menemukan foto masa kecil di mana senyumku masih begitu tulus tanpa beban. Kini, setiap garis di wajahku menceritakan kisah tentang air mata yang disembunyikan rapat-rapat dari keramaian kota.
Ibuku menyambut dengan pelukan hangat yang tidak pernah berubah meski waktu telah mengikis banyak hal di sekeliling kami. Dalam dekapannya, aku menyadari bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti menangis, melainkan tahu kapan harus bangkit kembali.
Aku mulai belajar merawat kebun kecil di belakang rumah yang selama ini terbengkalai dan penuh semak berduri. Setiap luka goresan ranting di tanganku menjadi saksi bisu betapa sulitnya membenahi sesuatu yang telah lama diabaikan.
Membaca catatan harian lama membuatku sadar bahwa setiap bab dalam novel kehidupan ini memiliki tujuannya masing-masing. Kegagalan yang kualami kemarin hanyalah jeda sebelum aku menuliskan kalimat-kalimat yang jauh lebih kuat.
Kedewasaan perlahan merayap masuk saat aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai berani memaafkan diri sendiri. Aku tidak lagi mengejar pengakuan orang lain, melainkan mencari ketenangan dalam setiap keputusan kecil yang kuambil.
Malam-malam sunyi kini tak lagi terasa menakutkan, karena aku telah berdamai dengan bayang-bayang kegelapan di masa lalu. Aku belajar bahwa kekuatan sejati muncul saat kita berani jujur pada segala kelemahan yang kita miliki.
Pagi ini, aku terbangun dengan semangat baru untuk menata kembali puing-puing impian yang sempat berserakan tak tentu arah. Langkahku kini terasa lebih tenang, tidak lagi terburu-buru mengejar bayang-bayang kesuksesan yang sebenarnya semu.
Ternyata, dewasa adalah tentang bagaimana kita tetap berjalan meski kaki terasa berat dan hati penuh dengan bekas luka. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi badai yang mungkin akan datang menerjang esok hari?