PORTAL7.CO.ID - Shalat bukan sekadar rutinitas gerakan fisik yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, melainkan sebuah mi’raj bagi orang beriman untuk menghadap Sang Pencipta. Dalam setiap ruku’ dan sujudnya, terkandung rahasia ketenangan jiwa yang mampu melampaui segala hiruk-pikuk problematika duniawi. Namun, keagungan shalat ini hanya dapat dirasakan sepenuhnya apabila ditegakkan di atas pondasi khusyu yang kokoh. Tanpa khusyu, seorang hamba mungkin telah menggugurkan kewajiban syariatnya, namun ia kehilangan esensi dan ruh dari perjumpaan sakral tersebut.

Khusyu merupakan gerbang utama menuju keberuntungan yang hakiki bagi setiap mukmin yang merindukan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya bahwa keberhasilan seorang hamba di dunia dan akhirat sangat berkelindan dengan kualitas kekhusyuannya di dalam shalat. Ketundukan hati dan ketenangan anggota badan saat menghadap-Nya adalah manifestasi dari pengakuan akan kebesaran Allah dan kerdilnya diri manusia. Hal ini sebagaimana digambarkan secara komprehensif dalam awal Surah Al-Mu’minun yang menjadi barometer keimanan.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS. Al-Mu'minun: 1-5)

Banyak kaum muslimin yang merasa bahwa shalat adalah beban yang berat dan menjemukan dalam keseharian mereka. Hal ini terjadi karena hilangnya rasa harap dan takut (khauf dan raja') yang menjadi bahan bakar utama kekhusyuan dalam hati. Shalat akan terasa ringan dan menjadi penyejuk mata hanya bagi mereka yang memiliki keyakinan kuat akan adanya pertemuan dengan Rabb mereka. Keyakinan inilah yang membuat setiap bacaan shalat menjadi dialog yang hidup, bukan sekadar komat-kamit lisan yang hampa makna.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Kita harus menyadari bahwa pahala shalat yang dicatat oleh malaikat sangat bergantung pada sejauh mana kesadaran hati kita hadir di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahwa ada orang yang melakukan shalat secara sempurna gerakannya, namun hanya mendapatkan sebagian kecil dari pahalanya. Hal ini menjadi pengingat keras bagi kita semua untuk tidak sekadar menggugurkan kewajiban secara formalitas. Kesungguhan dalam memerangi was-was setan saat shalat adalah perjuangan (jihad) yang sangat dicintai oleh Allah.

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Terjemahan: "Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya dan tidaklah dicatat baginya kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperlapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya." (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Sebagai kesimpulan, khusyu adalah permata dalam ibadah yang harus terus kita upayakan dengan sungguh-sungguh melalui ilmu dan latihan yang konsisten. Ia adalah kunci pembuka pintu-pintu rahmat Allah yang akan membawa perubahan besar pada orientasi hidup seorang muslim. Mari kita jadikan shalat sebagai sarana istirahat dari lelahnya dunia, sebagaimana Rasulullah menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan agar jiwa mereka beristirahat dalam shalat. Shalat yang khusyu adalah investasi abadi yang akan menjadi cahaya terang di alam barzakh dan penolong di hari kiamat kelak.

Akhirnya, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar dikaruniai hati yang tunduk dan dijauhkan dari hati yang keras serta tidak khusyu. Tanpa taufiq dari-Nya, mustahil bagi kita untuk mencapai puncak spiritualitas ini di tengah gempuran fitnah dunia yang begitu dahsyat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang mendirikan shalat dengan penuh cinta, harap, dan kekhusyuan yang sempurna hingga akhir hayat kita.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا