Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum emas untuk melakukan mujahadah atau perjuangan sungguh-sungguh. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan teladan terbaik dengan meningkatkan intensitas ibadah secara signifikan, terutama pada sepuluh malam terakhir. Semangat ini seharusnya menginspirasi setiap Muslim untuk tidak bermalas-malasan dan justru melipatgandakan amal saleh demi meraih kemuliaan.

Makna mujahadah mencakup pengerahan segala daya dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa taala dalam berbagai aspek kehidupan. Perjuangan ini bukan hanya terbatas pada ritual ibadah di masjid, tetapi juga mencakup perbaikan akhlak dan integritas diri. Dengan bermujahadah, seorang mukmin sedang membangun fondasi spiritual yang kokoh agar tetap istiqamah setelah bulan suci berakhir.

Allah Subhanahu wa taala menegaskan bahwa setiap usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh hamba-Nya pada hakikatnya akan membawa manfaat besar bagi diri mereka sendiri.

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: Dan barangsiapa yang berjihad (berusaha dengan sungguh-sungguh), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Al-Ankabut: 6)

Ustaz Rikza Maulan menjelaskan bahwa cakupan mujahadah sangatlah luas, mulai dari urusan ibadah ritual hingga mencari nafkah yang halal atau ma’isyah. Beliau menekankan pentingnya menjaga prinsip kebenaran atau mujahadah fil mauqif sebagaimana keteguhan hati Rasulullah dalam berdakwah. Selain itu, semangat menuntut ilmu dan memperbaiki kekurangan diri juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan di bulan suci ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerapkan semangat ini dengan disiplin mengatur waktu antara pekerjaan, keluarga, dan peningkatan kualitas qiyamullail. Kita juga diajak untuk lebih peka sosial dengan menjadi pribadi yang paling dermawan dan ramah kepada sesama manusia sebagaimana dicontohkan Nabi. Ramadan harus menjadi madrasah untuk melatih kesabaran dalam menghadapi ujian serta keberanian untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan diri.

Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik untuk menjadi hamba yang lebih bersyukur dan bersungguh-sungguh dalam setiap langkah kebaikan. Kesuksesan sejati di bulan ini diukur dari sejauh mana kita mampu menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan kualitas ketakwaan melalui mujahadah yang konsisten. Semoga Allah Subhanahu wa taala menerima segala amal perjuangan kita dan menggolongkan kita sebagai hamba yang meraih kemenangan hakiki.