PORTAL7.CO.ID - Fenomena perubahan suasana hati atau mood swing merupakan kondisi yang sangat akrab dialami oleh kaum wanita ketika mendekati siklus bulanan. Hal ini sering kali memicu sensitivitas emosional yang meningkat secara signifikan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Selain menghadapi tantangan emosional, para wanita juga biasanya harus berhadapan dengan berbagai gejala fisik yang mengganggu kenyamanan tubuh. Beberapa gejala yang paling sering dikeluhkan meliputi rasa nyeri yang menusuk serta kram pada area perut bawah.
Gejala-gejala emosional yang cukup mengganggu ini umumnya mulai menampakkan diri sekitar satu hingga dua minggu sebelum proses menstruasi benar-benar dimulai. Kondisi ini secara medis sering dikategorikan sebagai bagian dari premenstrual syndrome atau yang lebih dikenal dengan istilah PMS.
"Meskipun gejala emosional ini biasanya akan mereda pada hari kedua haid, rasa tidak nyaman akibat gejala fisik sering kali memperburuk kondisi psikologis sehingga wanita tetap merasa sangat sensitif," sebagaimana dilansir dari bogorplus.id.
Memasuki fase penjelasan medis yang lebih dalam, penyebab utama dari meningkatnya sensitivitas emosional ini ternyata berakar pada perubahan drastis kadar hormon dalam tubuh. Fokus utama tim medis tertuju pada fluktuasi hormon estrogen yang tidak stabil selama siklus berlangsung.
"Kadar estrogen dalam tubuh wanita akan mencapai titik tertingginya pada saat fase ovulasi atau ketika terjadi pelepasan sel telur," tulis laporan tersebut menjelaskan mekanisme biologis yang terjadi pada sistem reproduksi.
Namun, situasi hormon tersebut akan berubah drastis apabila tidak terjadi proses pembuahan pada sel telur yang telah dilepaskan. Tubuh secara otomatis akan memasuki fase pramenstruasi yang ditandai dengan penurunan kadar hormon secara tajam dan mendadak.
"Pada fase pramenstruasi, kadar estrogen akan menurun secara drastis sebelum nantinya akan meningkat kembali secara perlahan seiring berjalannya siklus baru," tambah laporan dalam bogorplus.id tersebut.
Penurunan hormon yang mendadak inilah yang kemudian menjadi pemicu utama mengapa suasana hati wanita menjadi tidak menentu dan cenderung lebih sensitif. Dampaknya tidak hanya terasa pada kondisi fisik, namun juga memberikan tekanan psikologis yang nyata bagi banyak wanita setiap bulannya.