PORTAL7.CO.ID - PT Bridgestone Tire Indonesia sukses menorehkan pencapaian signifikan dalam pengelolaan lingkungan dengan meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) peringkat Emas. Penghargaan prestisius dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) ini secara khusus diberikan untuk kinerja fasilitas mereka di Karawang Plant (KP) periode 2024-2025.

Pengumuman resmi mengenai raihan tertinggi di sektor lingkungan ini dilakukan pada pertengahan April 2026. Pencapaian ini memiliki makna ganda karena bertepatan dengan perayaan hari jadi Bridgestone yang ke-50 tahun beroperasi di Indonesia.

Menariknya, Bridgestone tercatat sebagai satu-satunya produsen ban di Indonesia yang berhasil mengamankan predikat Emas pada penilaian PROPER tahun berjalan. Selain pabrik Karawang yang meraih Emas, fasilitas produksi mereka di Bekasi (Bekasi Plant) juga turut membawa pulang peringkat Hijau.

Peringkat Emas ini merupakan tonggak sejarah baru bagi perusahaan, menandai kali pertama penghargaan tertinggi tersebut berhasil diraih sejak Bridgestone memulai operasinya di Tanah Air. Keberhasilan ini dianggap sebagai manifestasi nyata dari komitmen keberlanjutan perusahaan.

Komitmen tersebut selaras dengan pilar global perusahaan yang dikenal sebagai E8 Commitment, yang kini menjadi standar dalam setiap lini operasional mereka. Hal ini menunjukkan integrasi praktik lingkungan yang ketat dalam tata kelola perusahaan.

Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, menyambut baik hasil penilaian ini sebagai kado istimewa. "PROPER Peringkat Emas ini menjadi kado paling indah karena bertepatan dengan ulang tahun emas atau 50 tahun Bridgestone hadir di Indonesia," ujar Mukiat Sutikno.

Beliau menambahkan, penghargaan ini memperkuat tekad perusahaan untuk masa depan. "Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan lingkungan yang lebih baik di masa depan," tambah Mukiat Sutikno.

Penilaian dari KLH menunjukkan bahwa Bridgestone dinilai konsisten dalam menerapkan tata kelola dampak lingkungan yang efektif dan efisien di seluruh operasinya. Aspek yang dinilai mencakup pengelolaan sisa produksi, minimisasi polusi, hingga penggunaan energi terbarukan.

Selain itu, perusahaan juga menunjukkan penerapan program konservasi yang terukur di seluruh lini operasional mereka. Hal ini menunjukkan upaya perusahaan melampaui sekadar kepatuhan minimum terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.