PORTAL7.CO.ID - Pergerakan harga emas global pada Senin, 9 Maret 2026, menunjukkan tren penurunan yang signifikan setelah mengalami penguatan sebelumnya di awal tahun. Pelemahan ini terjadi seiring dengan meluasnya dampak konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kian memanas.

Saat sesi perdagangan Asia dibuka, harga emas batangan sempat menunjukkan kekuatan dengan mendekati level US$5.120 per troy ounce. Namun, tren positif tersebut tidak bertahan lama, terlihat dari catatan pada pukul 7.59 WIB yang menunjukkan penurunan drastis.

Harga logam mulia tersebut terperosok hingga mencapai level US$5.046,79 per troy ounce, yang merepresentasikan pelemahan sebesar 2,42% pada hari itu, dilansir dari Market. Penurunan tajam ini memberikan sinyal bahwa sentimen pasar sedang bergeser dari aset aman menuju aset yang lebih berisiko.

Salah satu pemicu utama pelemahan adalah blokade jalur distribusi minyak di Teluk Persia yang dilakukan oleh Iran. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi lonjakan inflasi global yang berkelanjutan di masa mendatang.

Kekhawatiran inflasi mendorong investor untuk memprediksi bahwa Bank Sentral AS, The Fed, akan memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Kebijakan suku bunga tinggi ini secara historis memberikan tekanan besar pada harga emas.

Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat turut memperburuk kondisi harga emas, karena biaya pinjaman yang lebih tinggi membuat investasi pada logam mulia menjadi kurang menarik bagi sebagian investor. Padahal, emas telah membukukan kenaikan lebih dari 20% sepanjang awal tahun 2026 sebagai aset safe haven.

Di tengah fluktuasi pasar tersebut, Bank Rakyat China mengambil langkah kontrarian dengan menambah cadangan emasnya sebanyak 30.000 troy ounce pada Februari 2026. Langkah ini menambah total cadangan emas murni China menjadi 74,22 juta troy ounce, menunjukkan adanya diversifikasi cadangan bank sentral.

Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral global secara kolektif mencapai lima ton pada bulan Januari lalu, meskipun ada beberapa negara seperti Polandia, Rusia, dan Venezuela yang dilaporkan mulai mengurangi porsi cadangan emas mereka.

Eskalasi ketegangan di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga, tetapi juga mengganggu rantai pasok emas fisik dari Dubai menuju pasar Asia. Penghentian sejumlah penerbangan dari Uni Emirat Arab menyulitkan pemasok dalam memindahkan logam mulia ke negara-negara tujuan impor.