Aku selalu percaya bahwa kedewasaan adalah garis finis yang dicapai setelah serangkaian kemenangan. Di usia dua puluh sekian, ambisiku melangit; aku membangun karier dengan fondasi kesempurnaan, tidak memberi ruang sedikit pun bagi kesalahan. Aku adalah Risa, sang arsitek yang tak pernah kalah, hingga proyek pembangunan kota yang kugarap selama dua tahun itu ambruk, bukan secara fisik, melainkan secara moral dan finansial.

Kabar kegagalan itu menghantamku seperti gelombang pasang, meninggalkan puing-puing kepercayaan diri yang berserakan. Malam-malam kulalui dalam keheningan yang menyesakkan, mencoba mencari tahu di mana celah yang kubuat, mengapa semua rencana yang sudah kususun rapi bisa berantakan tanpa ampun. Rasa malu jauh lebih berat daripada beban pekerjaan itu sendiri.

Aku memutuskan untuk menghilang. Aku meninggalkan hiruk pikuk kota dan mencari perlindungan di rumah nenekku di pelosok Jawa Barat, sebuah tempat yang hanya mengenal ritme matahari dan suara jangkrik. Di sana, aku tidak perlu menjadi Risa si arsitek hebat; aku hanya cucu yang sedang bersembunyi.

Nenek tidak banyak bertanya, hanya menyuguhkan teh hangat dan senyum yang menenangkan. Ia mengajariku cara menanam padi di sawah yang berlumpur, sebuah proses yang lambat, kotor, dan penuh ketidakpastian. Aku menyadari, tidak semua hal bisa dikontrol dengan perhitungan yang presisi dan cetak biru yang kaku.

Pagi-pagi buta, saat embun masih menempel di daun, aku duduk di balai bambu, membuka kembali sketsa-sketsa proyek gagal itu. Aku melihatnya bukan sebagai monumen kegagalan, melainkan sebagai cetak biru dari diriku yang terlalu angkuh, yang lupa bahwa keindahan sejati seringkali ditemukan dalam kerentanan.

Di titik sunyi inilah aku mulai menyadari bahwa setiap peristiwa—baik yang membanggakan maupun yang memalukan—adalah tinta yang mengisi lembar demi lembar kisahku. Aku akhirnya mengerti bahwa seluruh perjalanan ini adalah Novel kehidupan yang tak bisa diulang, dan kegagalan terbesarku adalah babak paling penting yang membentuk karakter.

Pelan-pelan, rasa sakit itu berubah menjadi penerimaan yang hangat. Aku mulai menggambar lagi, bukan gedung pencakar langit yang ambisius, tetapi desain sederhana yang menyatu dengan alam, desain yang memiliki jiwa dan tidak takut pada ketidaksempurnaan. Aku tidak lagi menggambar untuk pengakuan dunia, melainkan untuk memenuhi panggilan hati.

Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai puncak yang sempurna, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit dari jurang kegagalan, membawa serta pelajaran berharga sebagai bekal. Aku telah kehilangan banyak hal, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih fundamental: pemahaman bahwa aku adalah manusia yang rapuh, dan itu baik-baik saja.

Setelah beberapa bulan, aku mengemasi tasku. Aku tahu aku harus kembali ke kota, ke medan pertempuran yang pernah membuatku tumbang. Namun, kali ini, Risa yang kembali bukanlah Risa yang dulu; dia adalah Risa yang baru, yang membawa aroma lumpur dan kebijaksanaan sunyi dari desa. Aku siap membangun kembali, tetapi pertanyaannya, akankah dunia yang pernah menolakku bersedia menerima arsitek yang kini mendefinisikan sukses dengan cara yang berbeda?