Dahulu, aku mengira kedewasaan adalah tentang mencapai puncak, mengumpulkan gelar, dan memiliki kekuasaan. Aku hidup dalam gelembung ambisi yang tebal, yakin bahwa setiap langkahku telah terhitung sempurna menuju masa depan yang gemilang. Keyakinan itu membuatku arogan, buta terhadap kerapuhan yang sesungguhnya bersemayam di dalam diri.

Namun, semesta punya cara yang brutal namun indah untuk mengoreksi pandangan. Sebuah kegagalan besar dalam proyek yang kuanggap sebagai mahakarya—bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga kepercayaan—menghantamku hingga aku jatuh tersungkur. Aku tidak hanya kehilangan pijakan, aku kehilangan definisi diriku sendiri.

Aku memilih menarik diri, pindah ke rumah tua di pinggiran kota, menjauh dari sorotan dan penghakiman. Di sana, kegelapan dan kesunyian menjadi teman sehari-hari, memaksa aku untuk berhadapan dengan cerminan diri yang selama ini kuhindari. Aku belajar bahwa rasa sakit bukanlah hukuman, melainkan guru yang paling jujur.

Setiap pagi aku bangun, bukan untuk merencanakan penaklukan dunia, melainkan untuk menyelesaikan tugas-tugas kecil yang dulunya kuanggap remeh: memperbaiki genteng yang bocor, menanam kembali kebun yang mati, dan merawat seekor kucing liar yang sakit. Kesabaran yang dituntut oleh hal-hal sederhana ini perlahan mengikis ego yang selama ini menjadi bentengku.

Aku mulai memahami bahwa tanggung jawab sejati tidak terletak pada seberapa besar yang kau bangun, tetapi seberapa teguh kau berdiri setelah semua yang kau bangun runtuh. Ini adalah proses yang menyakitkan, proses di mana lapisan-lapisan kepura-puraan dikupas habis, menyisakan inti yang rapuh namun murni.

Di tengah sunyi, aku menyadari bahwa setiap kesulitan yang kualami, setiap air mata yang jatuh, adalah tinta yang menuliskan babak baru. Inilah esensi dari Novel kehidupan, di mana karakter utama harus melalui lembah gelap untuk memahami cahaya. Aku belajar memeluk cacat dan luka-luka itu, menjadikannya peta menuju kebijaksanaan.

Aku bertemu dengan seorang tetangga tua, seorang pengrajin kayu yang tangannya penuh kapalan. Ia tidak banyak bicara, tetapi caranya memperlakukan kayu yang retak—dengan hati-hati, mengisi celah, bukan membuangnya—mengajarkanku tentang rekonsiliasi. Retakan itu bukan akhir, melainkan pola yang membuat ukiran menjadi unik.

Ketika aku kembali, aku bukan lagi Rendra yang ambisius dan terburu-buru. Aku adalah Rendra yang matang, yang berjalan lebih lambat, yang mendengarkan lebih dalam. Kegagalan tidak membuatku miskin, ia membuatku kaya akan empati dan pemahaman akan batas diri.

Aku tahu, perjalanan ini masih panjang, dan badai lain pasti akan datang. Tapi kini aku siap. Aku tidak lagi takut pada hantaman, karena aku telah belajar bahwa kedewasaan sejati bukan tentang menghindari luka, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk tumbuh dari setiap bekas luka itu. Apakah aku akan kembali ke puncak? Entahlah, tetapi yang pasti, kini aku tahu bagaimana cara berdiri tegak di lembah.