PORTAL7.CO.ID - Arlan berdiri di depan gerbang kayu yang sudah lapuk, menatap rumah masa kecilnya yang kini sunyi. Angin sore membawa aroma tanah basah, seolah menyambut kepulangannya setelah belasan tahun berkelana di tanah rantau.
Di dalam tasnya, terselip sebuah buku catatan usang milik mendiang ibunya yang baru saja ia temukan di gudang. Lembarannya yang menguning menyimpan rahasia tentang mengapa ayahnya pergi tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal.
Setiap kata yang tertulis di sana terasa seperti bisikan lembut yang menyayat hati sekaligus menguatkan jiwa. Arlan menyadari bahwa selama ini dia berlari dari bayang-bayang yang sebenarnya adalah pelindung setianya.
Membaca setiap babnya terasa seperti menelusuri sebuah Novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga dan pengorbanan tanpa nama. Ibunya menuliskan setiap tetes keringat dan air mata dengan tinta ketabahan yang sangat luar biasa.
Di sudut desa itu, Arlan mulai membangun kembali puing-puing mimpinya yang sempat runtuh akibat kegagalan di kota besar. Ia belajar dari penduduk lokal bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemilau harta, melainkan dari ketenangan batin.
Seorang gadis kecil tunanetra yang tinggal di sebelah rumahnya menjadi guru terbaik bagi Arlan dalam melihat dunia. Gadis itu mampu melukis pelangi di atas kanvas hanya dengan mendengarkan suara rintik hujan yang jatuh di atas atap seng.
"Kak, warna langit sore ini pasti sangat hangat, ya?" tanya gadis itu sambil tersenyum tulus ke arah langit. Pertanyaan sederhana itu meruntuhkan tembok ego yang selama ini Arlan bangun dengan sangat kokoh di dalam dadanya.
Kini, Arlan tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi kerasnya takdir yang seringkali tidak berpihak padanya. Ia mulai menuliskan kisahnya sendiri di halaman kosong buku catatan ibunya, melanjutkan warisan cinta yang sempat terputus.
Namun, sebuah surat misterius tiba-tiba terselip di bawah pintu, mengungkapkan bahwa ayahnya mungkin masih hidup dan menunggunya di seberang pulau. Arlan terdiam menatap cakrawala yang mulai menggelap, bertanya-tanya apakah ia siap menghadapi kenyataan yang sebenarnya.