Para profesional ambisius dihadapkan pada dilema abadi: bagaimana mencapai puncak karier tanpa mengorbankan kualitas hubungan personal. Tuntutan jam kerja yang fleksibel namun intensif, ditambah mobilitas tinggi, sering menjadi ujian berat bagi komitmen pribadi.
Fenomena kerja jarak jauh atau hibrida, meskipun menawarkan fleksibilitas, justru cenderung mengaburkan batas antara kehidupan profesional dan privat. Hal ini menyebabkan waktu berkualitas yang seharusnya didedikasikan untuk pasangan atau keluarga menjadi tereduksi signifikan.
Fokus yang terlalu besar pada pencapaian profesional dapat memicu kelelahan emosional, yang kemudian berdampak negatif pada kemampuan berempati dalam hubungan. Komunikasi yang terganggu dan kurangnya kehadiran mental (mental presence) adalah konsekuensi yang sering terjadi.
Menurut psikolog hubungan, kunci keberhasilan terletak pada ‘pengelolaan energi’ bukan hanya ‘pengelolaan waktu’ semata. Mereka menekankan bahwa hubungan yang sehat membutuhkan investasi emosional yang terencana, bukan sekadar sisa waktu yang tersisa setelah bekerja.
Untuk mengatasi kerenggangan ini, penting bagi pasangan untuk menetapkan ‘zona bebas pekerjaan’ secara tegas, misalnya saat makan malam atau selama akhir pekan. Kesepakatan ini harus disepakati bersama dan dipatuhi sebagai bentuk penghargaan terhadap waktu kebersamaan.
Meskipun teknologi sering menjadi penyebab distorsi, ia juga dapat dimanfaatkan untuk menjaga koneksi, seperti melalui panggilan video singkat saat salah satu pihak berada di luar kota. Strategi lain yang efektif adalah menjadwalkan ‘kencan wajib’ (mandatory date nights) layaknya pertemuan bisnis penting.
Pada akhirnya, kesuksesan karier akan terasa hampa jika fondasi hubungan pribadi rapuh atau rusak akibat pengabaian. Menyeimbangkan ambisi profesional dan keintiman personal adalah investasi jangka panjang yang menentukan kesejahteraan hidup secara menyeluruh.