Dulu, aku pikir kedewasaan adalah pencapaian usia dua puluh satu tahun, sebuah pesta meriah dengan lilin-lilin harapan yang ditiup bersama-sama. Kenyataannya, kedewasaan datang tanpa undangan, menyergapku di tengah malam saat Ayah menerima surat PHK itu. Seketika, kanvas impian yang baru mulai kurajut harus kugulung, digantikan oleh daftar belanjaan dan tagihan listrik yang menumpuk.
Beban itu terasa mencekik, tiba-tiba aku harus menjadi perisai bagi adikku, Adi, yang masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa tawa di rumah kami meredup. Tugas utamaku bukan lagi mencari beasiswa seni rupa, melainkan mencari cara agar dapur tetap mengepul setiap hari. Aku harus belajar memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan.
Ada hari-hari ketika aku iri melihat unggahan teman-teman yang melanjutkan studi di luar kota, sementara aku berdiri di balik meja kasir minimarket di sudut kompleks. Rasa pahit itu sering memicu air mata yang kutahan mati-matian, takut Adi melihat dan kehilangan satu-satunya sosok yang ia anggap kuat.
Namun, dalam rutinitas yang melelahkan itu, aku justru menemukan kekuatan yang tak pernah kuduga. Aku belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa keras kita berjuang untuk diri sendiri, melainkan seberapa gigih kita berdiri demi orang lain yang kita cintai. Ini adalah pelajaran yang tak diajarkan di bangku sekolah mana pun.
Setiap keputusan sulit yang kuambil, setiap pengorbanan kecil yang kulakukan, membentuk babak baru dalam diriku, mengikis sisa-sisa kepolosan masa remaja. Kisahku ini, dengan segala lika-liku dan air mata yang tumpah, adalah sebuah Novel kehidupan yang tak bisa diulang, dan aku harus bertanggung jawab atas setiap halamannya.
Aku menyadari, menjadi dewasa berarti menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana, dan bahwa kehilangan adalah bagian integral dari pertumbuhan. Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai fokus pada apa yang bisa kulakukan hari ini, detik ini.
Perlahan, keadaan mulai membaik, bukan karena keajaiban, tapi karena ketekunan. Senyum Adi yang kembali ceria saat ia berhasil menyelesaikan tugas sekolahnya tanpa khawatir menjadi hadiah terindah yang tak ternilai harganya. Aku menyadari, meski jalanku berbelok tajam, aku tidak pernah benar-benar tersesat.
Luka pengorbanan itu memang meninggalkan bekas, tapi bekas itu bukan aib; itu adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah melangkah sendirian. Kedewasaan ternyata bukanlah tentang usia, melainkan tentang kesediaan kita memikul beban yang bukan milik kita, dan tetap memilih cinta di atas keputusasaan.