PORTAL7.CO.ID - Sebuah penemuan ilmiah yang menarik baru-baru ini diungkapkan oleh tim peneliti dari Universitas Nottingham di Inggris. Mereka berhasil mengidentifikasi adanya koneksi saraf yang sangat sinkron antara seorang ibu dan anaknya saat keduanya tengah berinteraksi atau bermain bersama.

Koneksi saraf yang terdeteksi ini menunjukkan adanya sinkronisasi aktivitas otak yang signifikan antara kedua subjek penelitian tersebut. Hal yang membuat temuan ini istimewa adalah koneksi tersebut tetap terjalin kuat meskipun sang ibu dan anak menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda.

Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah terkemuka, yakni Frontiers in Cognition. Publikasi tersebut dilakukan pada hari Senin, tanggal 18 Februari 2026, memberikan landasan ilmiah bagi temuan tersebut.

Secara eksplisit, hasil studi ini menegaskan bahwa ikatan otak yang solid antara ibu dan anak mampu melampaui berbagai batasan linguistik yang ada dalam komunikasi sehari-hari. Fenomena ini menjadi fokus utama dari penelitian mereka.

Fenomena sinkronisasi antar-otak ini dikenal dalam dunia neurosains dengan istilah interbrain synchrony. Ini merujuk pada bagaimana aktivitas listrik di otak dua individu dapat bergerak secara paralel atau selaras.

"Sebuah temuan menarik datang dari Universitas Nottingham di Inggris, di mana tim peneliti berhasil mengidentifikasi adanya koneksi saraf yang sinkron antara ibu dan anak saat mereka bermain bersama," demikian disampaikan dalam ulasan penelitian tersebut.

Lebih lanjut, temuan tersebut secara gamblang membuktikan bahwa ikatan emosional dan kognitif tidak selalu bergantung sepenuhnya pada kesamaan bahasa yang digunakan oleh kedua belah pihak. Koneksi ini menunjukkan adanya jalur komunikasi non-verbal yang mendalam.

"Koneksi ini terbukti tetap ada meskipun ibu dan anak tersebut menggunakan bahasa yang berbeda saat berinteraksi," tegas tim peneliti dalam publikasi mereka. Hal ini membuka perspektif baru mengenai esensi ikatan orang tua dan anak.

Dilansir dari artikel aslinya, penelitian ini memberikan dasar kuat untuk memahami bahwa ikatan emosional dan perkembangan sosial anak dapat terjalin meskipun ada hambatan bahasa. Ini menegaskan peran penting interaksi non-verbal.