Sungai Saruni di wilayah Cipasung, Jawa Barat, kini menjadi pusat perhatian akibat beban pencemaran yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun. Kondisi perairan yang memprihatinkan ini memicu lahirnya gerakan lingkungan bernama Pesan Green yang digagas oleh para alumni pesantren setempat. Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem sungai yang selama ini terabaikan oleh masyarakat dan santri. Upaya penyelamatan ini dipandang sebagai langkah krusial untuk memperbaiki kualitas hidup warga sekitar.
Tiga sosok utama di balik gerakan ini adalah Muhammad Najmi, Dewan Masnawi, dan Thoriq Aziz yang merupakan alumni Pondok Pesantren Cipasung. Mereka sepakat untuk mengusung konsep "Hijrah Ekologis" sebagai landasan utama dalam mengedukasi para santri. Gerakan ini menekankan pentingnya peran aktif komunitas pesantren dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan. Melalui program ini, mereka berharap kesadaran lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya baru di lingkungan pendidikan Islam.
Selama tiga dekade terakhir, Sungai Saruni secara tidak sadar telah dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga maupun sampah pesantren. Muhammad Najmi mengungkapkan bahwa akumulasi sampah tersebut merupakan bentuk "dosa ekologis" yang harus segera dihentikan. Praktik buruk ini telah berlangsung begitu lama hingga merusak ekosistem air di kawasan tersebut secara signifikan. Kini, upaya pembersihan menjadi prioritas utama untuk menebus kesalahan kolektif masa lalu.
Muhammad Najmi menjelaskan bahwa inisiatif Pesan Green muncul dari sebuah kesadaran kolektif mengenai dampak buruk pencemaran lingkungan. Ia menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi bukan hanya masalah estetika, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia. Para inisiator mengajak seluruh elemen pesantren untuk mengakui kesalahan masa lalu dan berkomitmen pada perubahan nyata. Langkah ini diharapkan mampu menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lain dalam mengelola limbah.
Dampak dari pencemaran di Sungai Saruni ternyata sangat luas karena limbahnya mengalir dan mencemari setidaknya tujuh sungai lainnya. Kondisi ini tidak hanya merusak keanekaragaman hayati air, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Air yang tercemar menjadi sumber penyakit dan menurunkan kualitas sanitasi bagi ribuan warga Jawa Barat. Oleh karena itu, penanganan cepat melalui gerakan Pesan Green dianggap sangat mendesak.
Saat ini, gerakan Pesan Green terus aktif mengajak para santri untuk terlibat langsung dalam aksi nyata pembersihan sungai. Mereka memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah mandiri agar tidak lagi berakhir di aliran air Sungai Saruni. Program ini juga mencakup kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan pondok pesantren. Transformasi perilaku ini menjadi inti dari semangat hijrah ekologis yang sedang mereka gaungkan.
Upaya yang dilakukan oleh alumni Pondok Pesantren Cipasung ini memberikan harapan baru bagi pemulihan lingkungan di Jawa Barat. Keberhasilan gerakan Pesan Green akan menjadi bukti bahwa institusi agama memiliki peran strategis dalam isu-isu ekologi global. Dengan komitmen yang kuat, "dosa ekologis" masa lalu diharapkan dapat terhapus melalui aksi pelestarian yang konsisten. Masa depan Sungai Saruni kini bergantung pada konsistensi para santri dalam menjaga warisan alam tersebut.