Langit sore itu tampak begitu kelabu, seolah-olah ikut merasakan beratnya beban yang tiba-tiba jatuh di pundakku. Aku yang biasanya hanya peduli pada tawa teman-teman, kini harus menatap realitas yang jauh lebih pahit dari sekadar kegagalan ujian.
Ayah pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di tengah ruang tamu kami. Sejak saat itu, setiap sudut rumah terasa asing dan menuntutku untuk segera menanggalkan jiwa kekanak-kanakanku demi mereka yang tersisa.
Menjadi dewasa ternyata bukan tentang angka usia, melainkan tentang bagaimana kita merespons kehilangan yang tak terduga. Aku mulai belajar bahwa tanggung jawab adalah bahasa cinta yang paling jujur untuk ibu dan adik-adikku di rumah.