PORTAL7.CO.ID - Pasar saham Korea Selatan menghadapi tekanan hebat pada awal pekan ini, ditandai dengan penurunan tajam indeks acuan Kospi. Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi jual yang melanda investor.
Menurut data yang dihimpun dilansir dari Bloomberg pada Senin (9/3/2026), indeks Kospi mengalami kemerosotan signifikan hingga melampaui batas 8%. Penurunan ini memperparah tren negatif yang sudah terjadi pekan sebelumnya, saat indeks sempat terkoreksi hingga 11%.
Kemerosotan drastis ini terutama dipicu oleh jatuhnya harga saham perusahaan teknologi raksasa. Saham seperti Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. dilaporkan melemah lebih dari 10% pada sesi perdagangan tersebut.
Volatilitas ekstrem di Bursa Efek Korea bahkan memaksa otoritas pasar untuk mengambil tindakan darurat. Perdagangan sempat dihentikan sementara selama 20 menit untuk meredam kepanikan pasar yang meluas.
Kondisi pasar Asia secara umum tertekan karena kekhawatiran akan dampak ketidakstabilan di Timur Tengah terhadap pasokan energi global. Investor asing mulai menarik modal mereka dari aset berisiko karena ketidakpastian yang berkepanjangan.
Kepala Eksekutif Fibonacci Asset Management Global, Jung In Yun, memberikan pandangan mengenai sentimen pasar saat itu. "Ini hari yang buruk lagi bagi saham Korea, karena investor khawatir konflik Iran mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan," ujar Jung In Yun.
Arus modal asing tercatat keluar secara masif pada Senin pagi, dengan nilai penjualan bersih mencapai lebih dari 1 triliun won, setara dengan US$668 juta. Angka ini menambah beban setelah pekan sebelumnya investor asing sudah melepas aset senilai 14 triliun won.
Kenaikan harga minyak mentah yang menembus level US$100 per barel menjadi ancaman serius bagi perekonomian Korea Selatan, mengingat negara tersebut merupakan importir energi bersih utama. Hal ini memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya produksi secara nasional.
Di tengah dominasi penurunan, sektor energi justru menunjukkan kinerja kontras, di mana saham seperti Daesung Energy Co. mencatat lonjakan signifikan lebih dari 20% pada hari yang sama.