PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah menetapkan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang mengatur jadwal Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2026.

Meskipun Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional, pemerintah tidak menyediakan jatah cuti bersama khusus untuk peringatan tersebut. Hal ini dikarenakan momen sakral bagi umat Buddha tersebut bertepatan dengan hari Minggu atau akhir pekan.

Dikutip dari Detikcom, masyarakat sebenarnya tetap bisa menikmati masa libur yang cukup panjang dengan melakukan manajemen jadwal secara mandiri. Kondisi ini dimungkinkan karena posisi hari raya yang berdekatan dengan beberapa hari libur nasional lainnya.

Rangkaian libur dimulai dari peringatan Iduladha 1447 Hijriah pada Rabu, 27 Mei 2026, yang diikuti cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026. Sebagai solusi praktis, masyarakat dapat mengambil cuti pribadi pada Jumat, 29 Mei 2026 untuk menyambung masa libur hingga akhir pekan.

Periode libur ini akan semakin panjang karena setelah Hari Raya Waisak pada hari Minggu, terdapat peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026. Dengan skema pengambilan cuti yang tepat, pekerja bisa mendapatkan total libur beruntun selama enam hari.

Terkait kesiapan teknis, Menteri Agama Nasaruddin Umar telah bertemu dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) di Jakarta. Pertemuan tersebut bertujuan untuk memastikan seluruh rangkaian Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE berjalan dengan khidmat dan lancar.

Dalam audiensi tersebut, Menag menekankan bahwa perayaan ini merupakan momentum penting untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama. Waisak dipandang sebagai energi positif dalam memperkokoh nilai-nilai kebangsaan dan toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Perayaan tahun 2026 ini mengusung tema utama "Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan" dengan subtema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia". Tema ini diharapkan tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga dapat diterapkan dalam interaksi sosial sehari-hari.

"Tema yang diangkat tahun ini sangat kuat, di mana Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan harus menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa agar lahir cinta kasih yang menjadi dasar perdamaian dunia," ujar Nasaruddin Umar.