PORTAL7.CO.ID - Produsen otomotif GAC AION Indonesia angkat bicara menanggapi kritik yang mengemuka mengenai rendahnya Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada kendaraan listrik impor dari China yang dirakit di Indonesia. Pihak pabrikan memberikan respons resmi terkait isu bahwa proses produksi di Tanah Air masih sebatas perakitan sederhana.

Pihak GAC Indonesia mengklaim bahwa seluruh tahapan produksi kendaraan listrik mereka saat ini telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Klaim ini disampaikan sebagai bentuk komitmen mereka terhadap peraturan yang berlaku di pasar domestik.

Chief Executive Officer (CEO) GAC Indonesia, Andry Ciu, menjelaskan bahwa mobil-mobil yang diproduksi oleh perusahaannya kini telah dirakit secara lokal di Indonesia. Ia menyatakan bahwa persentase komponen lokal yang digunakan saat ini sudah mencapai angka 40 persen.

Andry Ciu juga memaparkan rencana strategis ke depan terkait peningkatan komponen lokal dalam produk mereka. "Local content dimulai dari 40 persen, nanti akan segera naik (secara bertahap) ke 60 persen," ujar Andry Ciu saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

CEO GAC Indonesia tersebut menegaskan bahwa kepatuhan terhadap hukum dan regulasi di Indonesia merupakan prioritas utama bagi GAC AION dalam menjalankan operasional bisnisnya. Mereka siap beradaptasi dengan perubahan kebijakan yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Lebih lanjut, Andry Ciu menyatakan kesiapan perusahaan untuk menyesuaikan struktur produksi jika pembuat kebijakan memutuskan untuk menaikkan ambang batas minimal TKDN. "Kemudian nanti ada regulasi lagi untuk naik. Saya pikir, kita ikutin aja regulasi yang udah ditentuin pemerintah. Cepat atau lambat, local content-nya akan naik kok," tutur Andry Ciu, CEO GAC Indonesia.

Kritik sebelumnya datang dari Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), yang menyoroti dugaan ketergantungan merek China pada komponen impor. Organisasi tersebut menilai nilai tambah dari fasilitas perakitan kendaraan listrik di Indonesia masih tergolong rendah karena hanya fokus pada tahapan perakitan dasar.

Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mengemukakan pandangannya mengenai komposisi komponen saat ini. "Kalau untuk listrik itu kan ngerakit aja 30%. Untuk baterai aja di sini 40 udah, 70%. 10% yang dilokalin apa? Yang kecil-kecil," kata Rachmat Basuki pada suatu diskusi di Karet, Jakarta Pusat. Dikutip dari Detik Oto, pernyataan ini menyoroti minimnya lokalisasi komponen di luar perakitan utama dan baterai.

Rachmat Basuki juga mengungkapkan harapannya agar industri otomotif nasional dapat berkembang lebih jauh dari sekadar perakitan sederhana. Hal ini diharapkan agar pemasok suku cadang lokal dapat dilibatkan secara lebih mendalam dalam rantai pasok industri. "Harapannya yang pemasok-pemasok lokal bisa dilibatkan," kata Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM.