PORTAL7.CO.ID - Di tengah hiruk-pikuk konstelasi geopolitik dunia yang kian memanas, umat Islam dipanggil untuk kembali merenungi hakikat keberadaannya sebagai *khairu ummah* (umat terbaik). Krisis yang melanda berbagai belahan bumi, mulai dari penindasan di Palestina hingga konflik berkepanjangan di Sudan dan Yaman, menuntut respons yang lebih dari sekadar retorika politik. Islam mengajarkan bahwa persaudaraan antar sesama Muslim bukanlah sekadar ikatan emosional, melainkan sebuah struktur bangunan yang saling menguatkan di tengah badai ujian zaman.

Prinsip dasar ini berakar kuat pada wahyu Ilahi yang menegaskan bahwa setiap mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Diplomasi kemanusiaan yang dijalankan saat ini merupakan pengejawantahan dari perintah Allah SWT untuk menjaga harmoni dan solidaritas. Tanpa adanya ukhuwah yang tulus, bantuan materiil sehebat apa pun akan kehilangan ruh spiritualnya. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis yang diambil oleh negara-negara Islam harus senantiasa berpijak pada landasan teologis yang kokoh.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)

Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, memainkan peran sentral melalui sinergi antara Kementerian Luar Negeri dan lembaga-lembaga filantropi Islam seperti BAZNAS dan berbagai LAZ nasional. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah telah bertransformasi menjadi kekuatan diplomatik yang mampu membangun infrastruktur vital di zona konflik. Dukungan ini tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mencakup pembangunan rumah sakit, sekolah, dan sarana air bersih yang menjadi nafas kehidupan bagi mereka yang terpinggirkan.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan luar biasa mengenai pentingnya kepedulian sosial yang melampaui batas-batas geografi. Seorang Muslim sejati tidak akan bisa tidur nyenyak sementara saudaranya di belahan bumi lain merintih kelaparan atau ketakutan. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar bagi para diplomat dan relawan kemanusiaan Indonesia untuk tetap konsisten menyuarakan hak-hak kemanusiaan di forum internasional, memastikan bahwa bantuan dapat sampai ke tangan yang tepat secara aman dan berkelanjutan.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Terjemahan: "Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat." (HR. Muslim)

Keberhasilan diplomasi ini sangat bergantung pada keberlanjutan dukungan masyarakat dan komitmen pemerintah. Kita tidak boleh membiarkan semangat ini meredup seiring bergantinya isu di media massa. Setiap butir beras dan setiap obat-obatan yang dikirimkan adalah simbol dari doa dan harapan jutaan umat. Hal ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meningkatkan ketakwaan, karena pertolongan Allah akan datang kepada suatu kaum selama kaum tersebut menolong saudaranya.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Terjemahan: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Kita berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa memberikan kekuatan kepada para pemimpin kita, para diplomat, dan para relawan di garis depan. Semoga penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, Sudan, Yaman, dan seluruh dunia segera diangkat oleh Allah, dan digantikan dengan kedamaian serta kemuliaan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang tulus berjuang di jalan-Nya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ