Dulu, aku percaya bahwa hidup adalah lintasan lurus menuju puncak yang sudah kutentukan. Dengan ambisi yang membara dan keyakinan diri yang nyaris sombong, aku melangkah cepat, yakin tak ada badai yang mampu menggoyahkan. Namun, alam semesta memiliki cara yang brutal namun indah untuk mengajarkan kerendahan hati.

Kejatuhan itu datang tanpa peringatan, menghancurkan fondasi yang kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Sebuah proyek besar yang kupertaruhkan segala-galanya tiba-tiba runtuh, meninggalkan puing-puing bukan hanya dalam karier, tetapi juga dalam harga diriku. Aku terhempas ke dasar jurang sunyi, tempat cahaya terasa begitu jauh dan asing.

Selama berminggu-minggu, aku memilih menyendiri, menghindari tatapan iba dan pertanyaan basa-basi. Rasa malu itu tebal, melilit leherku seperti rantai yang berat, membuatku sulit bernapas dan menerima kenyataan. Aku mulai mempertanyakan setiap keputusan yang pernah kubuat, menyadari betapa rapuhnya ego yang selama ini kujunjung tinggi.

Titik balik itu muncul saat aku menemukan buku harian lama milik mendiang kakekku, yang terselip di antara tumpukan kertas usang. Kakek menulis tentang kegagalannya di masa muda, bukan sebagai akhir, melainkan sebagai kompos yang menyuburkan tanah. Ia menyebutkan bahwa hanya melalui patahan, kita bisa melihat pola kekuatan yang sesungguhnya ada di dalam diri kita.

Pencerahan itu menyakitkan, seperti mencabut duri yang sudah lama tertanam. Aku harus belajar untuk tidak menyalahkan keadaan, melainkan bertanggung jawab penuh atas kurangnya persiapan dan keangkuhan yang memudaratkan. Proses ini menuntut kejujuran paling brutal yang pernah kurasakan terhadap diriku sendiri.

Aku menyadari bahwa setiap bab dalam hidupku, baik yang manis maupun yang getir, adalah bagian esensial dari narasi besar yang tak terhindarkan. Inilah yang disebut orang sebagai *Novel kehidupan*, sebuah karya yang terus ditulis ulang setiap hari, menuntut kita untuk menjadi karakter utama yang lebih kuat dan bijaksana.

Perlahan, aku mulai membangun kembali, bukan dari nol, tetapi dari pengalaman yang berharga. Aku tidak lagi mencari kesempurnaan, tetapi mencari pertumbuhan; aku tidak lagi takut pada kegagalan, tetapi takut pada ketidakmampuan untuk belajar darinya. Kedewasaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kau raih, tetapi seberapa tegar kau berdiri setelah terjatuh.

Langkah-langkah yang kuambil kini terasa lebih mantap, meski jalannya tidak secepat dulu. Ada kebijaksanaan dalam setiap tarikan napas dan kehati-hatian dalam setiap keputusan. Luka lama itu kini menjadi kompas, mengarahkanku menjauh dari jebakan kesombongan masa lalu.

Kini, aku berdiri di persimpangan yang baru, siap menerima takdir yang mungkin tidak terduga. Aku telah kehilangan banyak hal, tetapi aku mendapatkan diriku kembali, versi yang lebih utuh dan lebih manusiawi. Apakah aku siap untuk babak selanjutnya? Tentu saja. Sebab, kisah ini baru saja dimulai, dan aku tidak sabar untuk melihat siapa aku di halaman berikutnya.