Dulu, hidupku adalah rentetan melodi bebas, diisi dengan janji-janji panggung dan malam yang tak berujung. Aku tak pernah benar-benar memikirkan masa depan, sebab masa depan terasa seperti janji yang bisa ditunda. Namun, semua berubah saat sebuah surat singkat tergeletak di meja dapur, mengubah irama hidupku dari ritme jazz yang riang menjadi dentuman drum yang berat dan mendesak.
Tiba-tiba, Kedai Kopi Senja, warisan almarhum kakek yang nyaris gulung tikar, jatuh ke pundakku. Aku, yang hanya tahu cara menyetem gitar, kini harus belajar menyetem neraca keuangan yang selalu defisit. Aroma pahit kopi yang menyengat di udara bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan sebuah beban yang harus kupanggul setiap pagi.
Hari-hari pertamaku terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai, dipenuhi tuntutan pemasok, tagihan listrik yang menumpuk, dan tatapan skeptis dari para pelanggan setia yang khawatir kedai ini akan tutup. Tidur hanya kudapatkan beberapa jam, dan jari-jariku yang terbiasa memetik senar kini sibuk menghitung receh di laci kasir yang sering kosong.
Bekas Luka Adalah Peta Menuju Dewasa: Kisah Pergulatan Diri
Di tengah kekacauan itu, aku mulai menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang keputusan yang kita ambil saat semua pilihan terasa berat. Inilah babak terberat dari Novel kehidupan yang harus kutulis, sebuah kisah yang menuntut pengorbanan dan keberanian untuk menghadapi kegagalan di depan mata.
Aku membuang buku-buku lagu dan menggantinya dengan buku besar akuntansi, memaksa diriku memahami seluk-beluk bisnis yang selama ini kucibir. Perlahan, aku mulai merombak menu, belajar membuat racikan kopi yang lebih otentik, dan menyambut setiap pelanggan dengan senyum yang dipaksakan namun tulus.
Ada saat-saat aku berdiri di sudut kedai, menyaksikan hujan membasahi jendela, dan rindu mendalam pada kehidupan lamaku menyeruak. Rindu pada panggung yang gemerlap, pada tepuk tangan, dan pada kebebasan tanpa beban. Namun, setiap kali keraguan itu datang, aku melihat wajah para karyawan yang bergantung padaku, dan keraguan itu sirna.
Tanggung jawab ini mengajarkanku empati, sebuah pelajaran yang tak pernah kudapatkan dari bangku kuliah seni. Aku belajar bahwa setiap orang membawa beban mereka sendiri, dan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan kita untuk tetap berdiri tegak demi orang lain, bahkan ketika lutut kita gemetar.
Setelah berbulan-bulan perjuangan, perlahan, Kedai Kopi Senja mulai bernapas lega. Angka-angka di buku besar mulai membaik, dan tawa pelanggan kembali memenuhi ruangan. Aku memang kehilangan waktu untuk bermusik, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: fondasi diri yang kokoh.
Kini, kedai sudah stabil, namun aku berdiri di persimpangan. Gitar lamaku masih terbungkus debu di pojok kamar, seolah menanti panggilan. Aku telah menyelamatkan warisan ini, tetapi apakah aku juga akan menyelamatkan mimpi lamaku, ataukah aroma pahit kopi ini telah meracuni diriku selamanya, menjadikanku penjaga kedai, bukan lagi musisi?