Penyebaran iklan palsu di berbagai platform media sosial kini menjadi ancaman serius bagi keamanan data pribadi masyarakat luas. Para pelaku kejahatan siber memanfaatkan algoritma periklanan untuk menjangkau target korban secara lebih spesifik dan meyakinkan.
Modus ini sering kali muncul dalam bentuk promosi barang elektronik dengan harga murah atau tawaran investasi yang tidak masuk akal. Calon korban biasanya diarahkan ke situs web tiruan yang dirancang sangat mirip dengan laman resmi perusahaan ternama.
Teknologi kecerdasan buatan kini mulai digunakan oleh penipu untuk menciptakan konten visual dan audio yang terlihat sangat autentik. Penggunaan teknik deepfake membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara iklan resmi dan kampanye penipuan yang berbahaya.