Sebuah unggahan video di media sosial TikTok mendadak viral setelah seorang pengemudi ojek online membagikan pengalaman pahitnya. Pengemudi bernama Putra Simanjuntak tersebut mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap seorang pelanggan di Jakarta. Insiden ini memicu perdebatan hangat di kalangan warganet mengenai etika dalam menggunakan jasa layanan pesan antar makanan secara daring.

Peristiwa bermula ketika Putra menerima pesanan makanan dari restoran HokBen di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Total belanjaan yang harus dibawa mencapai angka yang cukup besar, yakni Rp 461.000. Mengingat jumlah pesanan yang sangat banyak, pihak restoran mewajibkan penggunaan tas belanja tambahan dengan biaya sebesar Rp 3.000.

Putra memutuskan untuk menalangi terlebih dahulu biaya kantong belanja tersebut demi kelancaran proses pengiriman. Ia kemudian mencoba melakukan konfirmasi kepada pelanggan terkait tambahan biaya yang awalnya tidak tertera dalam aplikasi. Harapannya, pelanggan dapat memahami kondisi di lapangan dan bersedia mengganti uang tersebut saat pesanan sampai di tujuan.

Namun, respon yang diterima justru sangat jauh dari harapan sang pengemudi ojek online tersebut. Pelanggan tersebut memberikan jawaban yang dianggap meremehkan perjuangan sang driver yang sudah membantu membawa pesanan besar. "Yaelah, Rp 3 ribu doang!" ujar Putra menirukan perkataan pelanggan tersebut dalam video di akun @putra.simanjuntak138.

Unggahan yang dipublikasikan pada 18 Februari 2026 ini langsung menuai beragam reaksi dari para pengguna internet. Banyak pihak menyayangkan sikap pelanggan yang dinilai kurang menghargai nominal kecil namun sangat berarti bagi pengemudi. Kejadian ini juga menyoroti kerentanan pengemudi ojol yang seringkali harus menanggung biaya tak terduga dalam menjalankan tugasnya.

Hingga saat ini, video tersebut terus dibagikan dan mendapatkan ribuan komentar dari publik yang merasa bersimpati. Masalah biaya kantong plastik atau tas belanja memang sering menjadi kendala teknis antara pihak restoran, pengemudi, dan konsumen. Publik mendesak adanya sistem yang lebih jelas dari penyedia aplikasi agar perselisihan serupa tidak terulang kembali.

Kisah Putra Simanjuntak ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dan empati terhadap pekerja sektor informal. Walaupun nilai Rp 3.000 terdengar kecil bagi sebagian orang, kejujuran dan sikap saling menghargai tetap menjadi kunci utama dalam bertransaksi. Semoga kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan kualitas komunikasi antara pelanggan dan mitra.