PORTAL7.CO.ID - Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, melaksanakan kunjungan kerja pada Kamis (23/4/2026) untuk meninjau lokasi fenomena tanah amblas atau sinkhole di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Kunjungan mendadak ini dilakukan untuk memastikan bahwa langkah-langkah mitigasi yang diambil sudah efektif dan mencegah lubang raksasa tersebut meluas lebih jauh. Hal ini sangat krusial karena area terdampak merupakan lahan pertanian vital bagi masyarakat setempat.
Tito Karnavian secara mendalam mencermati paparan teknis dari tim Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengenai kondisi stabilitas struktur tanah di sekitar area longsoran geologi tersebut. Prioritas utama dalam peninjauan adalah mekanisme pengendalian air yang masuk ke dalam lubang.
Mengenai kondisi terkini, Tito Karnavian menyampaikan pertanyaan spesifik mengenai efektivitas penanganan air di lokasi. "Apakah sudah cukup stabil (di beberapa titik pantau). Bagaimana mengatasi tidak turun terus airnya (ke lubang)?" ujar Tito dalam keterangan tertulis pada Kamis (23/4/2026).
Menanggapi kemajuan penanganan di lapangan yang dinilai positif oleh tim teknis, Tito memberikan dukungan penuh kepada semua pihak yang terlibat dalam upaya stabilisasi. Pencegahan perluasan area amblas dianggap sebagai langkah paling penting demi menjaga keberlangsungan mata pencaharian warga.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Yusrizal Kurniwan, menyambut baik perhatian serius dari pemerintah pusat terhadap persoalan geologi di Aceh Tengah ini. Ia menjelaskan bahwa karakteristik geologis berupa tanah berpasir menjadi faktor utama yang menyebabkan amblasnya tanah secara berulang.
"Perlu diketahui juga, ini terjadi karena ada kondisi tanah yang berpasir," kata Yusrizal, memberikan keterangan teknis pada Senin (20/4).
Yusrizal membeberkan bahwa tim teknis telah merancang dan menerapkan beberapa skenario penanganan, termasuk pengalihan jalur aliran air dan modifikasi sistem irigasi yang ada. Tujuannya adalah agar konsentrasi air tidak memicu terjadinya longsor susulan pada lubang yang sudah ada.
Lebih lanjut, Yusrizal menjelaskan upaya teknis spesifik yang dilakukan untuk mengeluarkan air jenuh dari zona longsoran. "Selain itu, kami juga membuat (sumur) intercept. Tujuannya agar air yang jenuh di longsoran ini bisa dikeluarkan dan sekaligus nanti untuk membuat tata irigasi yang baru," katanya.