PORTAL7.CO.ID - Persaingan industri otomotif global di Indonesia sedang mengalami transformasi fundamental, beralih dari fokus kapasitas produksi massal menuju penguasaan teknologi kendaraan digital. Fenomena ini menciptakan tantangan baru bagi pabrikan Jepang yang telah lama memegang kendali pasar domestik.
Perubahan signifikan dalam lanskap persaingan ini didorong oleh keunggulan kompetitif produsen kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok, terutama dalam hal otomatisasi pabrik dan integrasi perangkat lunak. Kompetisi kini tidak lagi hanya tentang harga, tetapi lebih menitikberatkan pada kapabilitas digitalisasi kendaraan yang ditawarkan.
CEO Honda Motor, Toshihiro Mibe, secara terbuka mengakui kemajuan pesat yang dicapai pabrikan Tiongkok dalam aspek manufaktur. Ia menyoroti tingkat otomatisasi di fasilitas produksi mereka di Shanghai, China, yang telah melampaui ekspektasi industri global.
Ketertinggalan teknologi ini menimbulkan keraguan bagi pabrikan Jepang untuk segera menyamai dominasi yang kini dipegang oleh produsen Tiongkok dalam waktu singkat. Selain itu, disiplin dalam eksekusi menjadi salah satu faktor yang diakui oleh para pemimpin industri otomotif dunia.
"Hal yang sangat positif yang kami alami di China adalah tingkat disiplin yang tinggi dan kemauan untuk mengeksekusi," kata Blume, CEO Volkswagen, mengenai efisiensi operasional di pasar tersebut.
Di pasar Indonesia, tren elektrifikasi menunjukkan pertumbuhan yang kuat, sebagaimana tercatat dalam data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Penjualan kendaraan elektrifikasi melonjak sebesar 25 persen pada Februari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai total 18.721 unit secara nasional.
Merek asal China, BYD, menunjukkan agresivitas pasar yang signifikan dengan pertumbuhan penjualan ritel mencapai 42,9 persen pada periode yang sama. Angka ini merupakan peningkatan dari 2.516 unit di Januari 2026 menjadi 3.596 unit pada Februari 2026.
Riset Mobility Foresight memproyeksikan bahwa pasar software-defined vehicle (SDV) di Indonesia akan mengalami pertumbuhan substansial. Nilai pasar perangkat lunak otomotif ini diprediksi akan hampir empat kali lipat, mencapai 69,5 miliar dolar AS pada tahun 2031 mendatang.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menilai bahwa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan besar dalam kepemilikan mobil. Ia menyebutkan rasio kepemilikan mobil baru di Indonesia masih berada di angka 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.