PORTAL7.CO.ID - Nilai tukar Rupiah menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Senin, 9 Maret 2027. Mata uang domestik terdepresiasi sebesar 0,14 persen, ditutup pada posisi Rp 16.949 per dolar Amerika Serikat.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga merekam adanya depresiasi yang lebih dalam. Tercatat, Jisdor melemah 0,32 persen, dari posisi akhir pekan lalu Rp 16.919 menjadi Rp 16.974 per dolar AS.

Penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.

Faktor paling menonjol adalah melonjaknya harga minyak mentah global yang kini menembus level 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini bahkan sudah melampaui 30 persen dari posisi sebelumnya, mendekati rekor tertinggi awal tahun 2022.

"Harga minyak melonjak hingga 30 persen, jauh melampaui 100 dollar per barrel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022," ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang.

Pemicu utama kenaikan harga minyak ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas energi Iran memicu balasan rudal dari Teheran ke berbagai infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Situasi semakin memanas menyusul laporan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah dunia menuju Asia. Selain itu, pasar juga mencermati dinamika politik internal Iran pasca penunjukan Mojtaba Khamenei.

Dilansir dari Money, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS terjadi di tengah eskalasi ketegangan global. Kondisi ini memberikan dampak negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, data inflasi Tiongkok menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 1,3 persen pada Februari, melampaui ekspektasi pasar. Kenaikan ini didorong oleh kuatnya permintaan konsumsi selama periode libur Tahun Baru Imlek.