PORTAL7.CO.ID - Wakil Menteri Agama RI, R Muhammad Syafi’i, menekankan pentingnya sistem pengumuman satu pintu oleh pemerintah terkait penetapan awal bulan Hijriah. Langkah ini diambil sebagai solusi praktis untuk menghindari munculnya kebingungan di tengah masyarakat akibat informasi yang simpang siur.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan strategis bersama jajaran Ditjen Bimas Islam di Jakarta pada Selasa (14/4/2026), sebagaimana dilansir dari Cahaya. Integrasi informasi melalui satu jalur resmi dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga ketertiban serta persatuan umat Islam di seluruh Indonesia.

"Ke depan, pengumuman awal bulan Hijriah perlu dilakukan melalui satu pintu, yakni pemerintah melalui sidang isbat. Hal ini penting agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat akibat perbedaan informasi," tegas R Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama.

Syafi'i menjelaskan bahwa mekanisme sidang isbat bukan sekadar prosedur teknis untuk menentukan penanggalan semata. Forum tersebut merupakan instrumen kebijakan negara yang memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkaya khazanah keilmuan Islam.

"Perbedaan adalah bagian dari khazanah keilmuan. Namun, penyampaiannya harus bijak. Tidak semua hal perlu diumumkan secara terpisah jika berpotensi menimbulkan kegaduhan," ujar R Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama.

Sebagai langkah konkret, pemerintah dijadwalkan akan kembali menggelar sidang isbat pada 29 Zulkaidah 1447 H mendatang. Agenda ini bertujuan untuk menentukan awal bulan Zulhijjah 1447 Hijriah sekaligus menetapkan waktu pelaksanaan Iduladha bagi seluruh umat Muslim di tanah air.

"Sidang isbat menjadi ruang bersama yang mempertemukan ormas Islam, ahli falak, serta instansi terkait. Di dalamnya, kita mengintegrasikan hisab sebagai dasar perhitungan astronomi dan rukyat sebagai verifikasi faktual di lapangan," kata R Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama.

Proses penetapan ini juga melibatkan data astronomi akurat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau posisi hilal secara presisi. Hasil pemantauan fisik di berbagai titik di Indonesia nantinya akan disinkronkan dengan hasil perhitungan matematis yang telah ada.

"Hisab memberikan gambaran awal yang akurat, sementara rukyat memastikan validitasnya. Keduanya tidak dipertentangkan, tetapi saling melengkapi dalam proses penetapan," jelas R Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama.